KK 10 Feb 2022 (Narsum: Bpk. Ian Kamajaya, Transkrip: Stefanus)

Amunisi peperangan Paulus melawan siasat iblis dalam jemaat Korintus: pemahaman yang benar, kesaksian hidup yang membungkan kepalsuan lawan, dan penundaan pelaksanaan kuasa penghakiman demi kesempurnaan ketaatan jemaat

Nas: 2Kor 9 -13, dengan ayat kunci 2Kor 10:4-5

Hari ini kita akan belajar dari satu perikop Alkitab, dari banyak pasal, tak sebagaimana lazimnya. Kita akan baca 5 pasal. Beberapa komentar awal: (9:2) Akhaya itu Korintus, Di pasal 9, konteksnya adalah jemaat Korintus yang dikumpulkan dananya untuk dipakai di gereja lain (mungkin Yerusalem), dan Paulus sedang utus orang Makedonia ambil janji pemberian itu. (10:1) ada nada yang beda di sini tiba-tiba disbanding sebelumnya, dan kita akan mengerti nantinya. Ada nuansa klarifikasi, pembelaan, yang dilakukan Paulus dalam pasal 10 ini. Pasal 11 sangat panjang, Paulus deskripsikan keadaannya. Dalam 12:1-4, tokoh itu adalah Paulus sendiri. (12:13) ini bahasanya sarkastik. Kita baca pasal 9-13 karena isunya bersambung semua. Pasal 9 pemberian, diulang sampai pasal 12. Pasal 13 sampai ayat 10 saja. Saya akan baca lagi ayat inti hari ini, 2Kor 10:4-5. Memang ayat lain pernah saya bahas juga. Saya hari ini fokus pada apologia/pembelaan yang dilakukan Paulus.

Dalam peperangannnya dengan kita, setan suka memberikan interpretasi lain sehingga kita diperdaya mengenal Tuhan secara salah. Maka tak heran anak-anak setan itu juga punya siasat sama, merujuk pada 2Kor 11:3 (Hawa) dan juga 2Kor 11:12-15 (iblis menyamar sebagai malaikat terang). Ada 4 siasat setan, dimana anak-anak setan menduplikasi. Setan pakai taktik dusta dengan hal-hal yang dapat dipertanyakan. Di taman Eden, pertama, hal yang dapat dipertanyakan, adalah pohon di tengah itu. Kedua, setan berikan interpretasi baru, katakan tidak akan mati kalau makan tetapi akan seperti Allah. Lalu, ketiga, manusia jadi tidak percaya Allah sejati, kebaikan, janji, dan hidup kekalnya. Ini dihancurkan dusta setan lagi. Sesudah dusta itu ada, keempat, manusia memperbanyak kejahatan dan dosa, berlipat ganda, anaknya sendiri membunuh. Kita harus berhati-hati sebagai orang Kristen, dengan siasat setan yang sama.

Di bagian 2Kor tadi, Paulus katakan rasul palsu itu meniru setan, kita akan lihat bagaimana konteks pelayanan Paulus, baru kita lihat isu di surat ini, dan kita kemudian bisa berikan kita alasan Paulus lakukan pembelaannya. Harap melalui pembelajaran ini kita tahu lebih tepat konteks apologia, cara pakainya, pakai ke siapa.

Mulai dulu, konteks jemaat Korintus, di pasal 9 ada semacam janji dari jemaat Akhaya/Korintus. Ada jemaat Makedonia agaknya lebih dewasa secara rohani dibanding Korintus. Di Korintus jemaatnya lebih kaya dalam keuangan dan karunia. Ada janji jemaat Korintus yang lebih kaya. Kota besar itu, menarik orang dengan ragam talenta dan kekayaan/standar hidup lebih tinggi (bnd. Singapura). Mereka diminta Paulus bantu jemaat kota lain yang tidak sekaya mereka, kemungkinan di Yerusalem. Paulus kumpulkan dana dari beragam tempat. Agaknya ada janji jemaat Korintus untuk berikan ini. Dalam konteks tersebut, menyusup kumpulan rasul palsu yang coba tanggapi apa yang dikerjakan Paulus ini. Dalam hal ini, rasul palsu meniru setan memberi interpretasi sorot tertentu. Entah alasan iri, sombong, kepentingan diri, dan mereka berikan ide baru kepada jemaat tentang apa yang dikerjakan Paulus, “Paulus itu minta sumbangan, maksudnya bukan untuk orang miskin, supaya uangnya bisa dipakai dia sendiri, hidup berkecukupan bahkan kaya”. Ini jadi racun di jemaat Korintus. Mereka jadi pikir, kalau kasih dan dipakai Paulus sendiri, jadi memperkaya penipu. Nah memang kan, sudah disangka, Paulus memang seperti itu, pakai kebaikan hati orang Kristen supaya hidup enak sendiri. Kecurigaan ini bahkan bisa dibenarkan dengan alasan-alasan ya, karena tipuan uang ini banyak terjadi bahkan oleh orang-orang gereja. Misal kita menyorot beberapa pendeta Karismatik memakai iman tanpa tanya dari jemaat untuk memperkaya diri sendiri, dan ini mengecewakan jemaat, misal kasus City Harvest Church (pendeta pakai uang gereja untuk mendukung karir istri sebagai artis).

Memang ada dasar dari kecurigaan jemaat Korintus, bisa saja ternyata benar Paulus itu penipu. Tapi di sini Paulus menegur mereka, karena mereka buta terhadap sesuatu yang sangat jelas! Di sini, Paulus memberikan klarifikasi tentang apa yang terjadi, menghancurkan siasat kubu lawan. Ini satu segmen dari 2Kor, dengan tema apologia/pembelaan, yang mempertanyakan iman dan harapan dia, di keseluruhan 2Kor 9-13. Dalam 2Kor 10:2, ada tuduhan bahwa Paulus mau pakai uang itu secara duniawi (ini konteks dekatnya). Banyak orang waktu dengar kata apologia, kesan kita apa biasanya? Berikan semacam alasan rasional dari orang yang pertanyakan doktrin yang kita miliki? Bahkan di NTU akan ada acara Night Apologetics, Maret nanti, saya akan sedikit bantu, ajar orang Kristen bagaimana berespon terhadap penentangnya. Waktu kita coba belajar dari apa yang dilakukan Paulus di sini, lebih dari itu, bukan sekadar bicara dibalas bicara, itu salah satu saja. Di bagian-bagian ini, Paulus pakai setidaknya tiga hal: 1) Paham salah dibalas paham benar, 2) Contoh hidupnya meneguhkan kebenaran yang disampaikan, 3) Mempertimbangkan kapan pakai penghukuman kuasa Allah (menundanya) untuk berikan vindikasi dari apa yang dikerjakan. Kita akan belajar dari 3 poin besar ini, apa yang harus kita lakukan dalam apologia, melalui bagaimana Paulus berespon terhadap situasinya.

Bagian pertama, Paulus runtuhkan kubu lawan dengan menjelaskan yang benar dari pemahaman yang salah. Di pasal 9, Paulus berikan 4 hal dari perspektif rohani. Paulus dituduh menipu dengan embel-embel bantuan orang kudus untuk memperkaya diri. Paulus berikan pembenahan perspektif tentang apa yang mereka salah tanggapi. Paulus berikan perspektif Alkitabiahnya:

  1. Jangan anggap memberi itu sesuatu yang buruk bagimu sampai berkekurangan (2Kor 9:8), karena Tuhan sanggup jaga orang yang beri supaya tidak berkekurangan. Ini juga dorongan dari kita yang takut memberi karena kekuatiran berkekurangan.
  2. Yang memberi dapat kelimpahan bisa secara materi atau rohani (2Kor 9:10). Memberi dibandingkan dengan tumbuhnya buah-buah kebenaran. Orang yang beri secara keuangan punya kemurahan hati dalam hatinya (2Kor 9:11). Memberi di sini adalah kesempatan baik untuk dapat gunakan kelebihannya untuk dapatkan apa yang mereka kurang, yaitu kelimpahan kemurahan hati (2Kor 9:12). Yang memberi ke orang, jarang ia kurang. Ini yang mau dijelaskan Paulus.
  3. Lalu, Paulus juga ajarkan, pemberian ini dihubungkan dengan apa yang dituai (2Kor 9:6). Yang tidak mau menabur, akan kehilangan kesempatan menuai banyak. Memang tidak harus secara materi di sini. Justru yang ditekankan di sini dari pemberian ini itu aspek rohani. Akan banyak buah rohani yang Anda dapat tuai saat menabur pemberian banyak. Orang yang biasa memberi justru dapat dilihat kekayaan rohaninya lebih, dibanding orang kaya yang lebih jarang memberi. Ini kesempatan yang mau diberikan Paulus pada jemaat Korintus. Baik pemberi maupun penerima ada ungkapan syukur. Ada hubungan invers antara materi yang dibagikan dengan kekayaan rohani memang, bandingkan kisah orang muda kaya yang gagal.
  4. Keberhasilan orang Kristen tahan uji seperti ini akan melimpahkan ucapan syukur kepada Allah (2Kor 9:12). Dalam ujian iman kita, memberi atau tidak, berbuat jahat atau tidak, dll – ini dapat dikonversikan jadi limpahan ucapan syukur saat kita selesai tahan uji! Kita jarang lihat ini, misal waktu kita perlu pertahankan kualitas belajar baik sendirian. Jangan salah, waktu kita tahan uji, kita lulus dari ujian memberi, belajar baik, dll, nantinya bentuk jadinya melimpahkan ucapan syukur dari mereka yang menerima berkat dari Anda. Misal Anda baca Alkitab, tanya Anda, Anda juga tidak tekun di tengah, akhirnya mereka juga jadi tidak ada kekuatan, tidak ada limpahan ucapan syukur. Ada orang tanya ke Anda, Anda bicara tentang betapa perlu uang terus-menerus untuk ragam kebutuhan – dimana orang melihat Anda sebagai orang Kristen? Mana limpahan ucapan syukur ada di sini? Tidak ada limpahan syukur karena tidak tahan uji! Tuhan tahu takaran kita waktu diuji memberi, dan Tuhan tidak akan membuat kita berkekurangan. Bahagialah kalau pemberi tahan uji, penerima melimpah ucapan syukur. Ini berguna bukan hanya untuk Anda tetapi juga bagi mereka yang di sekitar.

Bagian kedua, kita akan perluas perspektif apologia. Kita gak lihat suratnya itu penjelasan panjang tentang doktrin memberi, lengkap dan panjang, tutup, selesai, maka memberi! Bukan berhenti di sini. Paulus berikan porsi lebih besar malahan untuk bagian kedua: kehidupan itu meneguhkan kebenaran yang disampaikan, dikontraskan dengan kehidupan rasul palsu. Ada dasarkah jemaat Korintus curiga ke Paulus? Salah satunya ada karena jumlahnya besar (bandingkan saya minta Anda berbagian jumlah kecil untuk membantu guru di Papua). Paulus minta jumlah besar untuk satu jemaat. Bandingkan Anda diminta janji iman untuk CIT. Memang jumlah besar menimbulkan kecurigaan, tapi Paulus mengingatkan satu hal yang diluputkan dari jemaat Korintus: kehidupan Paulus yang dikontraskan dengan kehidupan penentangnya. Memang ada poinnya ketika Yesus bedakan pengajaran dan kehidupan (orang Farisi ajarannya bagus dan diterima, tapi jangan ikut aplikasi hidup mereka). Tapi dalam hal ini, Paulus bukan hanya bicara ajarannya tapi juga kehidupannya untuk sokong kebenaran ajarannya tadi. Orang Korintus diinginkan Paulus untuk membandingkan diri Paulus dengan rasul palsu. Mengapa demikian? Ajaran salah perlu diserang Paulus (beda dengan ajaran orang Farisi), dan juga orang Korintus sudah komitmen pemberian kepada Paulus (sehingga kredibilitas Paulus penting di sini).

  1. Orang Korintus bukan hanya dengar ajaran Paulus, tapi sudah komit pemberian, maka Paulus perlu tunjukkan hidupnya yang dapat dipercaya. 2Kor 10:13-16, menunjukkan keabsahan dia, Paulus beritakan Injil di daerah lain, akhirnya sampai ke Korintus juga. Paulus tidak bermegah akan daerah tak dipatok (Paulus sebagai penginjil dan pengajar Korintus, sebagai bapa rohani). Sebaliknya, keangkuhan mereka yang megah itu, klaim hasil pekerjaan tempat lain walaupun tidak diakui (misal bilang saya khotbah di sana, untuk mengesankan orang lain). Hati-hati kita mudah terlena dengan latar belakang kebesaran orang tanpa kita kenal dekat orang tersebut, apalagi kalau orang itu sendiri yang bicara. Waktu kita terpesona dengan ini, kita bisa hilang hal penting dari orang yang dekat dengan kita. Paulus bicara daerah dipatok dan tidak klaim daerah lain, kontras dengan mereka yang bermegah mengesankan.
  2. Lainnya, Paulus tidak membebankan keuangan pada jemaat atau melalui orang yang diutusnya (2Kor 11:7-9), dalam kekurangan dia tidak minta malahan dicukupkan jemaat lain. Paulus berani bermegah tentang sikap hidupnya, karena tidak membebankan jemaat dalam tugasnya. Ini bedakan dia dari lawannya, di 2Kor 11:12. Orang sejati betul-betul tulus, pakai uangnya, bisa bermegah dalam kehidupan yang mencukupan diri pada sokongan Allah. Ini gak bisa ditiru. Rasul palsu tidak akan mau hidup sengsara seperti ini, apalagi jemaat Korintus kaya. Tetapi Paulus tetap dengan sikapnya, sengaja beda, untuk tegaskan keaslian rasul yang hidupnya teruji. Di sini kita belajar, ada batas kehidupan yang indikatif dari orang Kristen sejati dan tidak. Kalau ada orang yang dalam segala kekayaannya, bilang bahwa Anda perlu kasih dari apa yang dimiliki; tapi ada orang yang gaji pas-pasan hidup dengan keluarga, bilang hal yang sama. Apa bedanya? Yang pertama memberi, yang kedua memberi, coba bandingkan kisah janda yang berikan dua keping dibandingkan orang Farisi, dimana janda itu berikan dari kekurangannya, dan ini yang dipuji Tuhan! Orang kedua ini yang dapat diuji betul-betul tahu apa itu memberi. Kualitas ini tidak bisa dipalsukan. Ada kualitas yang bisa dipalsukan, misal karena kehidupan yang enak; atau orang yang cepat belajar bilang bahwa Anda perlu banyak belajar teologi, dll (atau orang lain yang berkutat belajar, tapi bilang hal sama, ini ada kualitas dari kekurangannya). Motivasi murni diuji melalui kekurangan dan risiko dari pembicaranya. Pak Stephen Tong saya bisa percayai karena ketika dia membuka janji iman, dia sendiri berikan miliknya, banyak, misal waktu Museum dia berikan banyak koleksi terbaiknya. Ini pembeda penting ya.
  3. Selanjutnya, Paulus juga nyatakan bukti kerendahan hati tanpa menjadi tinggi hati. Paulus terpaksa bermegah dalam kemegahannya, pasal 11, kejadian sulit yang dialami (cambuk, kelaparan, dilempari batu, dll), puncaknya pengalaman diangkat ke surga tingkat ketiga di pasal 12, bahkan dia gak bermegah akan hal ini, malahan yang lebih ditekankan adalah utusan iblis yang menggocoh dia dimana dia dapat kekuatan Tuhan (2Kor 12:7-10). Dalam hal ini Paulus terima wahyu langsung Yesus, bukan hanya Yohanes, tetapi dalam hal ini pun Paulus tak tekankan ini; ia tekankan kelemahannya, dan ia bermegah atas kelemahan ini. Ini kontras dengan orang yang suka berkata indah, nyatakan pengalaman besar, yang sebenarnya gak terlalu penting, untuk membesarkan diri, dapat pengakuan orang lain. Beda dengan tujuan membangun orang lain. Saya pernah cerita misionaris Papua, dia sempat mentok penginjilan, dan dia ada kesempatan anak 2 tahun tenggelam dan mati, telat diangkat. Coba pernapasan buatan, dia dan istri tidak bisa. Konteks Papua waktu itu orang suka perang, Injil sulit masuk. Dalam momen itu, dia tiba-tiba terpikir doa yang tak terpikirkan sebelumnya, supaya Tuhan yang Mahakuasa berikan kebangkitan dan hidup lagi pada mereka yang mati ini, langsung anak itu muntahkan air dan hidup lagi, kaget satu suku, jadi orang Kristen. Nama orang ini pun Anda tidak tahu kan? Memang tidak penting. Tuhan pakai momen ini saat Injil sulit masuk. Ini yang penting. Paulus nyatakan pengalamannya tanpa bermegah. Paulus pengetahuan gak kalah dengan rasul, walau secara retorika mungkin kalah (2Kor 11:6). Kita gak harus ketemu orang yang pandai jelaskan, tapi penting kita kenal orang yang punya pengenalan sejati tentang Tuhan.
  4. Terakhir, 2Kor 10:17-18, pengetahuan diri dan Tuhan dibandingkan, dimana di ayat 12 rasul palsu ini memuji diri dan bandingkan diri. Tapi di ayat 18, orang yang dipuji Tuhan betul tahan uji. Kenapa rasul palsu bisa tuduh Paulus suka curi uang? Mungkin dia sendiri pikirannya gitu: saya sendiri kalau jadi rasul akan gitu, tapi karena ada rasul besar seperti itu, saya bilang aja pola pikir saya ke dia. Rasa dia sendiri hebat karena dia bisa khotbah gini, kedengaran oleh saya hebat, pastilah tinggi statusnya. Tapi apa dipuji Tuhan? Gak ada hubungan dia puas atau tidak. Tapi yang salah, lihat diri bagus atau tidak berdasarkan penilaian diri. Rasul palsu lihat Paulus: gak mungkin kan ada orang sebaik ini, kerja keras, bukan untuk keuntungan diri – pastilah dia gak gitu, pastilah seperti saya juga cara pakai uangnya, ini diperkenan Tuhan kan. Jadi mereka masuk jerat bandingkan diri dengan diri. Kita pikir: saya puas kalau saya bisa kerjakan ini, pencapaian ini, tapi apa Tuhan berkenan? Istri saya ditempatkan di sisi saya, turut mengajar saya, bahwa kecerdasan orang tak terlalu ada nilainya (mengoreksi saya yang ada latar belakang kompetitif). Paulus giat kerjakan yang Tuhan mau, ini cukup! Ini bagaimana Paulus berapologetika waktu dia mengesahkan dirinya. Bukan hanya soal pemahaman, tapi juga kesaksian hidupnya. Sering kita kurang apologetika bagian ini: apa hidup kita menyanggah pemahaman yang kita pertahankan tadi?

Bagian ketiga, Paulus menunda kuasa Allah menghukum jemaat, demi mendapatkan vindikasi Tuhan (2Kor 10:6). Orang yang benar, sejati, pada akhirnya akan divindikasi Allah, ini gak bisa dipalsukan. Paulus kalau mau datang dan hukum rasul palsu, misal dengan penyakit, bisa kena, tapi dia tunda. Dia siap hukum mereka waktu ketaatan jemaat sudah sempurna! Ini soal waktu! Justru kalau hukum dulu, ketaatan jemaat belum sempurna – kenapa? Orang taat bisa karena karena takut saja, bukan karena latihan iman. Biarkan lalang gandum bertumbuh, ujian ini ada, Paulus nantikan ini, biar orang-orang Korintus bertumbuh dan taat. Ini jadi pelajaran buat kita, mungkin kita bebal, kalau jelas siapa menang kalah kan jadi enak? Elia yang kerjakan pekerjaan besar di zaman Ahab, menang lawan nabi palsu di gunung Karmel – apa orang Israel, Ahab, bertobat? Tidak juga! Kenyataan memang begitu, orang yang lihat mujizat tidak bertobat juga. Sebaliknya, dalam kondisi krisis besar, 7000 nabi sejati dikenal Tuhan. Kita sering ada mentalitas, hindari saja kerumitan, perlu lihat orangnya, ngerti ajaran benar/salah – siapkan saja mezbah tunggu api turun? Padahal itu gak tentu menghasilkan iman sejati. Di manakah penilaian rohani kita ini bertumbuh, kalau ada tanda segera? Nabi palsu pun bisa lakukan mujizat dalam nama Yesus (Mat 7:22-23). Walaupun Paulus bisa bermujizat, dia tunda, dia ingin menyempurnakan iman jemaat. Kita seringkali pikir vindikasi perlu cepat, tapi ini gak membuat penilaian rohani yang bertumbuh. Misal saya bilang memberilah, besok dapat uang banyak tiba-tiba, Anda akan pikir memang inilah vindikasinya yang cepat. Tapi kalau saya tahan uji lama, Anda bisa lebih menyaksikan vindikasi yang lebih.

Setan pakai siasat soroti Paulus minta uang jemaat, berikan interpretasi menyimpang, sehingga manusia gak berbagian dalam memberi dan tidak bertumbuh dalam pengenalan Allah. Akhirnya, dosa makin banyak. Dalam 2Kor 12:20-21, Paulus kuatir jemaat didapati ada perselisihan, iri, amarah, dll. Menarik, isunya orang mau taat atau tidak dalam memberi. Tetapi ketika ini gagal, segala macam kredibilitas dan ajaran Paulus itu hancur! Kalau Paulus gak bisa buktikan, beri keabsahan rasul sejati, segala di belakangnya itu gagal, datang ke sana akan dapati mereka jauh lebih berdosa karena dihambat setan dari pertumbuhan yang sejati. Misal saya di KK, saya beri ajaran benar, saya coba bahas baik, telaah Alkitab sungguh. Lalu misal ada orang bilang Ko Ian kerjakan itu karena cari nama, membuat gereja baru, ekstremkan orang, maka jangan dengarkan! Maka semua ajaran itu gak perlu didengarkan ya. Dan apa yang ajarkan berikutnya, tema lebih luas, sudah tak terdengar lagi. Dalam kasus saya, dampaknya kecil. Tapi kalau pendeta bagaimana? Pak Stephen Tong, diragukan keabsahannya dengan dalih tidak ada Roh Kudus, dan ia marah, karena keabsahan teologi di belakangnya diragukan pula.