KK NUS 10 Mar 2022

Narsum: Billy, Transkrip: Stefanus Nas: Yak 1:19-27

Ini pertama kali James Yaputra ikut pembahasan surat Yakobus. Dia tertarik jurnal kitab Yakobus (ESV), saya beli di SKS. Saya bawakan dari Yakobus karena nama paling banyak di KK kita adalah Yakobus. Untuk rekoleksi dua sesi sebelumnya: surat Yakobus, beda dari surat Paulus umumnya, karena ditujukan kepada orang Yahudi. Penulisnya adalah saudara Yesus, saudara Yesus, penilik gereja Yerusalem. Sesi pertama, itu tentang berbahagia dalam ujian, terkait khotbah Pak Stephen Tong dalam Doa Bapa Kami. Kita berbahagia dalam ujian karena ujian ini akan menyempurnakan kita, ada kemuliaan menanti di balik itu. Menghadapi ujian, kita meminta hikmat, bukan pelepasan, jalan keluar, kekuatan, dll. Kenapa hikmat, karena kita dengannya kita melihat ke depan, ujian ini akan hasilkan apa, tidak berhenti pada kesulitan ujian.

Lalu sesi kedua, kita bahas tentang kekayaan. Ayat 12 dst, bagian intinya, bedanya ujian dan pencobaan. Ujian itu bertujuan baik, menghasilkan ketekunan, berbuah, tahan uji, dapat mahkota. Ini rantai dari ujian. Sedangkan pencobaan, dibuahi, dosa, lalu maut. Inilah kontras dua jalur. Ujian dan pencobaan kata aslinya itu sama, ini yang menarik. Hal yang sama bisa berujung pada hidup atau mati. Yesus pun dicobai, tapi itu tak membawa pada kematian. Ini dorongan pada kita, menghadapi ujian pencobaan, kita arahkan ke mana. Tuhan mau bawa kita ke hidup kekal, tapi setan mau kita dibawa ke kematian kekal. Bandingkan kasus Ayub atau Yusuf. Kita gak bisa curiga sama Tuhan, kalau dosa, misal karena Tuhan izinkan saya berdosa. Salahnya adalah kita, milih jalur yang salah. Di ayat 16, Tuhan beri semua yang baik, dan tidak dapat dipersalahkan.

Hari ini kita masuk sesi ketiga, ayat 19-27. Ini bagian yang kita sering dengar. Ada tiga paragraf di ESV. Pertama, mendengar penting dibanding bicara. Kedua, selain bicara juga melakukan. Ketiga, sebagai rangkuman, kelakuan itu jadi tanda agama yang sejati.

Pertama, kalimat di ayat 19, ditujukan pada saudara dalam Kristus, orang yang sudah diselamatkan. Ini bukan legalistik, dilakukan setelah diselamatkan, bukan tindakan supaya diselamatkan. Setelah kita jadi orang Kristen, ini jadi peringatan juga, untuk menghidupi transformasi seperti ditulis Yakobus. Dorongan pertama, mendengar, lambat kata, lambat marah. Ini terkait bagian sebelumnya, bahwa orang yang sedang dalam kesulitan, kecenderungan alamiah adalah tidak dengar, mengeluh, dan marah. Meski dalam kesulitan, kita perlu tahan hasrat ini. Kita dapat tahan diri dalam relasi dengan Tuhan, gak lekas salahkan Tuhan, tapi sabar menanti mengerti maksud Tuhan. Bisa juga dalam konteks kita, apa waktu kita dengar firman, dengan gaya yang tidak sesuai ekspektasi kita, apa kita cepat mengeluh, ataukah kita bisa dengan sabar menemukan mutiara dalam khutbah kita. Jadi ada aplikasi ke Tuhan di contoh barusan. Aplikasi dalam relasi dengan sesama juga bisa: kita tahan opini kita, dengar dulu sehingga tidak terjadi konflik.

Saya sendiri refleksi ini dalam hubungan kita dengan gereja karismatik. AKTB-ku dari gereja karismatik, dia nonton video rekomendasi Youtube, seorang pendeta Reformed bahas tentang alasan orang Kristen perlu berhenti dari mendengar musik Betel. Dia jadi krisis, ragu tentang gerejanya. Banyak dijelaskan kekurangannya, tapi ada catatan bahwa gereja ini memegang paham kenosis (Yesus ke dunia tanggalkan keilahiannya, seperti dipegang pendiri dari Betel, Bill Johnson). Ternyata Bill Johnson pun ada video klarifikasi tentang itu, dia gak ada maksud beri paham salah itu, dan dia hanya coba parafrase saja “kenosis” (Flp. 2) itu. Bill Johnson bilang, kenapa pendeta yang mengasihi saya, tidak telepon saya saja. Memang ada pendeta yang telepon bilang, mungkin bukumu dapat direvisi, karena bawa salah paham, padahal maksud aslinya bukan begitu. Ini jadi evaluasi kita juga: kalau kita mengasihi orang, kita bisa tahan penilaian, tidak langsung mengeluh, marah. Ini mungkin lebih sulit ketika kita makin berusia, karena kita alami banyak hal. Misal kalau Michael tanya sesuatu, kita rasa tahu dia maksudnya, kita langsung potong, jawab saja. Betapa banyak kesabaran yang diperlukan dalam hal ini!

Semakin dewasa, kita terus perlu bertumbuh dalam mendengar, lambat berkata, lambat marah. Tantangan lebih nyata, pria mendengar wanita yang kalau bicara memberi banyak konteks sebelum masuk ke poin utama. Ada rekan kerja yang kalau meminta sesuatu, dia mulai dengan “karena … karena …”, barulah dia minta bantuan. Ini tantangan ya bagi laki-laki mendengar yang tidak langsung, banyak konteks, berputar-putar. Pak Billy pernah khotbah di PA, memahami perbedaan pria dan wanita. Dia bilang bahwa banyak gereja ada PA Wanita, tapi PA Pria jarang ya. Anggapannya pria sibuk kerja kah? Yesus berkata, kalau gak bisa cintai saudara yang kelihatan, bagaimana bisa cintai saudara yang tak kelihatan. Ini Pak Billy aplikasikan ke mendengar wanita yang kelihatan, dibandingkan dengan firman yang tidak kelihatan. Ini poin tentang mendengar, yang kelihatan bisakah kita sabar? Mengenai kemarahan, seberapa kita tahu kemarahan kita benar atau tidak? Di ayat 19, dikatakan lambat marah. Berarti biasa kemarahan kita itu impulsif saja, dan ini yang salah.

Ayat 20, diberi alasannya, bahwa kemarahan manusia tak kerjakan kebenaran di hadapan Allah. Kita lebih sering kutip kisah Yesus marah di bait Allah, sebagai dukungan kita perjuangkan kebenaran? Tapi di sini, kemarahan manusia (bukan kemarahan Tuhan ya), tak kerjakan kebenaran. Waktu kita marah dengan dalih perjuangkan kebenaran, apa kita cek apakah ini untuk lampiaskan kemarahan diri saja? Misal saya marah ke Michael karena minum, apakah membangun dia, atau membuat kepahitan yang tak perlu. Seringkali justru kesabaran dan kerendahan hati yang merubah orang. Allah merubah hati manusia dengan kesabaran dan pengorbanan. Mari kita menilik apa kemarahan kita dari diri atau Tuhan. Ayat 21, kita perlu buang kejahatan yang banyak, bukan hanya satu beres lalu puas. Bukan hanya menahan, tapi membuang kejahatan itu, barulah kita dapat menerima firman yang berkuasa menyelamatkan jiwa.

Kedua, bukan hanya mendengar, tapi juga melakukan. Mendengar saja itu menipu diri, mengapa ya? MIsal, firman yang didengar harusnya mendorong kita melakukan sesuatu. Tanpanya, kita menipu diri, mendengar dianggap sudah melakukan? Saya juga kadang tahan pembicaraan supaya gak masuk ke hati, dengan jalur bercanda atau membahas tema intelektual lain. Ini cara alihkan tema reflektif ya, supaya tema barunya jauh di sana, dan aman bagi saya. Waktu kita dengar khotbah, apa kita berhenti terpukau pada konsep, kosakata, jawaban pertanyaan, atau lebih dari itu ya? Analoginya, kalau dengar dan tidak lakukan, seperti orang yang amati mukanya di depan cermin. Ini adalah suatu kemauan, kedisiplinan, karena dikatakan “amati” bukan sekadar lewat. Tantangan saya, kalau dengar khotbah sore, akan habis energi, jadi ada dilema mau kopi sebelum khotbah atau tidak (risikonya malam sulit tidur). Tapi entah mengapa ya, waktu kerja kalau perlu saya mau saja kopi walau malamnya akan sulit tidur.

Tapi dengar saja gak cukup: hukum itu akan menunjukkan kecacatan diri kita. Cermin itu menyatakan kecacatan dari muka kita. Tapi lihat doang gak cukup, kalau wajah kita ternyatalah kotor di cermin. Bukan hanya analisa asal muasal kotornya dari mana kan, tapi perlu dibersihkan sebagai tindak lanjut. Beginilah mendengar firman, adakah tindak lanjut kelakuan. Di ayat 23 juga dikatakan, “natural face”. Inilah wajah kita sebenarnya, bukan yang kelihatan lebih baik ketika kita puas bandingkan diri dengan orang sekitar. Kalau mau kita mau tahu paling alami siapa diri kita, kita perlu firman Tuhan. Tapi, di ayat 25, dikatakan bahwa firman itu hukum yang sempurna dan yang membebaskan. Sempurna maksudnya lengkap, gak perlu ditambah, dan keseluruhannya perlu. Kontrasnya adalah kita mau sebagian saja padahal firman itu lengkap dalam PL dan PB. Selain itu, hukum ini juga membebaskan, bukan membebani kita! Panduan barang bukan membatasi tapi mengarahkan kita memaksimalkan fungsi perangkat itu. Ikan bukan terikat dalam air, tapi bebas dalam air. Ini jadi dorongan dan motivasi kita untuk melakukan firman bukan sebagai beban, tapi sesuatu yang membebaskan. Memang kita perlu ketekunan, untuk mendapat berkat nantinya. Inilah bagian kedua, bukan hanya dengar dan menipu diri tapi juga melakukan. Mungkin lebih sulitkah kalau khotbahnya lebih doktrinal? Lebih perlu usaha dari kita untuk menerjemahkan itu jadi sesuatu yang dapat dilakukan! Kalau dibandingkan dengan perumpamaan penabur, ini seperti tanah berbatu ya, yang terima gembira tapi tidak tahan. Lalu bagaimana bisa tumbuh? Balik lagi, ujian dan pencobaan, masa sulit.

Ketiga, bagian yang singkat, suatu rangkuman dari keagamaan palsu dan sejati. Yang palsu itu, dia pikir dia beribadah, tapi tak kekang lidah (misal lekas menuduh kesalahan pada orang lain, suka gosip skandal, dll.), di sini ia menipu diri. Ada pandangan juga bahwa orang yang tak bisa kekang lidah itu dikaitkan dengan kesombongan, yang anggap diri benar dan tak bisa dengar orang lain. Tetapi agama yang sejati? Tahan lidah, mendengar, dan melakukan! Spesifik di sini melakukannya apa? Mengunjungi yatim piatu, janda, dan jaga diri tak dicemarkan oleh dunia. Bagi Tim Keller, ini keseimbangan belas kasihan dan kemurnian (bandingkan penekanan ekstrem liberal vs konservatif)! Yang menarik, sering ya dibilang tentang janda dan anak yatim ya! Misal Ayub waktu dituduh temannya, dia membela bahwa dia sudah menolong janda. Mungkinkah gambaran Yesus sebagai mempelai laki-laki suatu gambaran yang menghibur bagi janda-janda? Atau kita diangkat jadi anak Bapa, beri penghiburan bagi dunia ini? Sebagaimana Yesus memberi harapan ini, biarlah kita juga melakukan firman ini, dengan berbelas kasihan pada mereka yang membutuhkan.