KK 11 Jan 2022 (narsum: Bpk. Ian Kamajaya, transkrip: Stefanus)
Hari ini kita baca dari Ef 5:1-21, tapi nanti fokus ke ayat 15-16 (pergunakan waktu karena hari jahat, sebagai orang arif). Untuk suplemen, juga kita baca Ef 6:13 (perlawanan pada hari yang jahat itu) dan Pkh 12 (sebelum tiba hari malang, situasi distopia; akhir katanya adalah takut akan Tuhan dst).
Perhatikan ayat kunci di Ef 5:15-16. Masih dalam semangat tahun baru, baik kalau kita ada momen yang menyegarkan kita, mengenai kesadaran akan waktu, dimana perikop ini dapat menjelaskan itu. Waktu itu apa, bagaimana digunakan?
Bagaimana kita hayati pesan Paulus pada jemaatnya ini? Poin paling sederhana dulu, waktu itu kita gak bisa definisikan jelas. Agustinus katakan kalau dia gak ditanya dia rasa mengerti waktu tapi setelah ditanya dia jadi rasa gak tahu. Memang sulit didefinisikan.
Alkitab berikan gambaran waktu dalam hubungannya dengan hal lain, termasuk yang kita lihat di Ef 5:15-16. Di sana jelas bahwa waktu itu dihubungkan dengan kebijaksanaan dan kehidupan. Waktu dapat dimengerti dari dimensi-dimensi yang ditonjolkan di Alkitab. Pertama, waktu adalah salah satu komponen utama hidup fisik. Bukan uang. Pak Stephen Tong pernah bedakan waktu vs uang dalam salah satu bukunya. Kemahiran kita, uang kita, gak berguna bila kita tak diberikan waktu untuk gunakan. Orang-orang sekitar kita juga tak berguna bila kita tak ada waktu. Bijaksana orang dapat dinyatakan dan disederhanakan menjadi bagaimana dia gunakan waktunya. Waktu itu komponen besar hidup. Inilah tragedi, kita jarang evaluasi waktu. Kita evaluasi catatan pengeluaran misalnya, untuk melacak bagaimana kita habiskan uang. Juga evaluasi nilai belajar, kalau kurang dari ekspektasi, kita pikir kita kurang apa. Tapi jarang orang evaluasi komponen lebih penting yaitu waktu, mungkin karena pandangan orang ke waktu terlalu remeh, sumber daya kecil saya (tak lebih penting dari uang). Bisa juga orang gak evaluasi karena gak tahu apa yang perlu dievaluasi. Dalam konteks inilah ayat-ayat yang kita baca itu ditulis Paulus. Paulus mulai dengan perhatikan saksama bagaimana hidup, sebelum bicarakan waktu. Kata sifat yang dipakai: saksama (vs sepintas lalu). Dalam kata Indonesia, ada kata lihat, pandang. Kata 'perhatikan' itu sudah kuat. Tapi Paulus tekankan lagi istilah 'saksama'. Dalam Inggris KJV, circumspectly, sesuatu yang ditelaah dengan detail. Kata Yunaninya dapat diterjemahkan 'dengan tepat'. Saat kita berhenti dan telaah sebentar, kita sadar waktu itu penting. Jadi pertama, waktu dikaitkan dengan kehidupan, sebagai komponen utamanya.
Lalu, kedua, waktu dikaitkan dengan bijaksana secara langsung. Orang bijaksana adalah orang yang setidaknya mengetahui nilai dibanding yang tidak bijaksana. Tapi bukan cuma tahu nilai, tapi tahu nilai di tengah kompleksitas, bisa memilih yang mana yang dapat digunakan di waktu dan konteks tersebut, dan digunakan untuk apa. Kalau tanpa kompleksitas, gak dikatakan bijaksana. Contohlah amusement park (secara bahasa artinya taman tanpa pikir). Waktu main halilintar, duduk, di sana, gak banyak pilihan (duduk vs lompat) ya. Cukup jelas. Juga misal lapar maka cari makan, ini gak ada kompleksitas pilihan. Tapi ada situasi yang ada pilihan kompleks. Waktu menjadi ujian akhir dari bijaksana. Ada orang pakai satu hari begitu berguna, yang lain tidak. Satu hari, satu menit waktu, bukan diskrit tapi membuka peluang dan kesempatan begitu banyak, bahkan tak hingga. Pilihan modul A/B/C itu diskrit karena pilihan satu modul sepaket. Tapi waktu yang kita alokasikan bisa dipecah-pecah untuk berbagai pekerjaan.
Selain kita tahu kita perlu gunakan waktu dalam hidup dan bijaksana, Paulus tambahkan satu hal lagi, karena hari jahat. Ini kontras lain pemakaian waktu yang ada, dengan hari-hari (yang adalah waktu) itu jahat. Paulus tak katakan, 'karena waktu terbatas, karena waktu berharga' saja di sini. Tapi lebih tegas lagi, hari-hari ini jahat. Dalam bahasa Indonesia atau lain, memang artinya jahat, hari-hari ini atau hari ke depan. Terminologi jahat dalam bahasa Yunani yang dipakai itu ponerai, bukan rujuk pada kejahatan/kebejatan moral tapi lebih rujuk pada kejahatan alamiah, atau sesuatu yang melelahkan dan berat. Makanya tadi saya suplemen dari Pkh 12, suasana masa dimana tidak ada kesenangan. Hari-hari jahat, yang dimaksud Pengkhotbah/Efesus itu, hari-hari yang sifatnya sulit bagi Anda untuk gunakan secara bebas dengan dukungan situasi yang baik. Segala macam pendukung untuk lakukan sesuatu itu dicabut, dibanding hari-hari yang baik dan mendukung. Buat Yavniel, beberapa jam tanpa orangtua itu hari jahat. Zaman pandemi, kita pikir dulu bisa bertemu orang mudah, tapi banyak pembatasan sekarang - inilah pengertian hari jahat. Tapi hari jahat juga bisa disematkan ke dirimu ketimbang ke suasana luar, dalam konteks pertambahan usia (Pkh 12). Maka di sana pembaca didorong untuk cari Tuhan pada masa muda, sebab hari jahat tiba ke mereka yang lanjut usianya. Dalam masa tua, ada kesulitan yang dibawa, yaitu fisik yang lemah, termasuk ingatan, ketajaman pikiran, energi sosialisasi, sehingga pekerjaan terbatas. Bandingkan dengan situasi muda. Urusan usia bukan alasan kecil sehingga Pkh 12 dorong ingat Pencipta waktu masa muda. Kita jarang pikir tentang masa depan kita, kecuali kita belajar firman: bijaksana lihat masa muda dari masa tua dan bukan masa muda. Kalau lihat dari masa muda, kita gunakan kebebasan tanpa batas. Tapi kalau lihat dari masa tua, ini arahkan apa yang perlu kita kerjakan. Hari-hari jahat ini ada dalam diri kita, seiring berjalannya waktu dan usia, bukan sesuatu yang di luar. Orang sering gak pikir waktu karena tidak berbijaksana, atau tidak punya acuan tentang hari jahat yang akan datang. Pengkhotbah tekankan hari jahat itu di masa depan, tapi Paulus di Efesus pergunakan istilah hari jahat itu untuk sekarang (hari-hari ini). Hari itu jahat karena kita membawa usia yang makin tambah (perspektif Pengkhotbah).
Kita akan coba mengerti perspektif Paulus di Efesus setelah ini. Pola-pola hidup kita gak bisa lepas dari konteks lingkungan. Orang bijak perlu tahu pilihan dan kompleksitas sekitar untuk ambil keputusan. Hari ini jahat karena ada pembengkakan dari jumlah pilihan yang receh dan gak berguna, merusak, dimana kita didorong ke sana. Bijaksana diuji lewat kompleksitas. Dalam jepitan pilihan, bisa saja banyak pilihan yang tersedia itu gak beri kejelasan. Misal kalau Anda mau pakai gawai yang baik, gak ada kesulitan memilih gawai, tapi ini mencabut pilihan Anda untuk hanya gunakan gawai hanya untuk telepon. Orang hilang konsentrasi, mudah bosan, terdistraksi, karena gawai pintar ini. Gejala ini juga mengganggu pertumbuhan anak melalui hiperstimulasi gawai, apalagi rentang perhatian anak saja sudah kecil sekali awalnya. Kesabaran belajar diperoleh melalui kegiatan membaca yang tak langsung memuaskan, tetapi gawai cerdas langsung memberikan imajinasi. Padahal imajinasi perlu dilatih. Adakah pilihan untuk kembali? Kadang kita gak sadar ke jebakan lubang buaya, dimana kita hanya bisa memilih buaya besar atau buaya kecil saja. Budaya kompetisi yang kita terima juga menghancurkan alternatif pilihan lain: menukar waktu dan hidup, demi komitmen dan pencapaian uang nanti, walau kelihatan kita bisa memilih dengan bebas. Kekristenan palsu menyatakan Kristus ditambah keuntungan diri yang juga diperoleh (karir, pengakuan dunia, dsb) - seperti orang yang berdiri di pagar, gak terlalu dalam dan luar. Ada perbedaan dan komitmen seharusnya cara kita kenal pengajaran/hal di luar gereja dan dalam gereja. Bandingkan godaan ular kepada Adam dan Hawa, untuk cicipi yang di luar sana.
Demikianlah hari-hari ini jahat, sebab hari-hari ini menjanjikan kelepasan bagi Anda: permainan gawai, jalan-jalan luar Singapura. Anda ditawarkan pilihan banyak: permainan beragam jenis, bahkan jadi pemain profesional (ganti kerja yang untuk cari uang - benarkah?). Lihatkah betapa jahatnya hari-hari ini. Inikah cara Anda habiskan waktu luang? Belanja banyak pilihan. Saya awal tahun pergi ke taman Punggol sama keluarga, habiskan waktu di hutan bakau, gak banyak orang, tapi di momen sederhana itu banyak yang saya pelajari: detail bakau, berbagai jenis fauna baru. Anak saya tunjukkan takjubnya akan kura-kura, sampai sulit pulang. Ini jadi refleksi apa orang dewasa anggap ini habiskan waktu? Anda disodori bukan pilihan baik A/B/C, tapi pilihan-pilihan yang jahat sekaligus mengikat. Bagaimana dengan pilihan magang waktu liburan? Dunia menekan: kalah saingan kalau gak magang. Kita jadi lakukan itu dengan paksaan. Zaman saya magang opsional, sekali cukup. Bukankah hari-hari ini jahat, kita hidup dipaksa dalam permainan ini. Apa yang hilang dan lenyap dalam ini? Momen, kairos! Harap saya bisa jelaskan ini.
Kairos, secara umum artinya kontras dengan kronos (durasi berulang). Kairos itu momen khusus misal kelahiran, kelulusan, pernikahan, dll. Tapi Paulus bermaksud lebih dari ini, suatu momen berharga yang gak tentu kelihatan: misal Maria yang mendengar firman (vs sibuknya Marta), atau janda yang mempersembahkan 2 keping dari seluruh penghasilannya. Adakah kita hilang sesuatu karena kairos kita lenyap? Tebuslah momen itu! Ini kata yang dipakai Paulus. Penebusan bukan kata kerja yang umum untuk waktu (vs pergunakan). Penebusan berarti kumpulkan harta untuk beli kembali sesuatu yang telah kita buang/hilang ke luar. Dan dalam penebusan, harga tebus itu lebih mahal dari harga aslinya. Tapi itu masih lebih baik dibandingkan tidak ditebus. Hari-hari ini jahat, akan ambil momen penting hidup kita.
Istilah pergunakan waktu, sebenarnya Yunaninya adalah tebus kesempatan/momen. Beda antara kronos dan kairos. Tebuslah momen-momen! Kita kembali bicara tentang momen, kairos (waktu yang lebih menentukan dan lebih jarang tiba dibanding kairos). Momen itu waktu kita definisikan kontra kairos, ini gak cukup. Momen gak datang begitu saja, gak datang sendiri. Natur dari momen adalah kulminasi dari investasi waktu yang bukan momen. Kronos diinvestasikan untuk kairos. Momen itu hasil petikan, panen. Momen bukan satu faktor penentu saja. Tuaian perlu taburan sebelumnya. Ujian terakhir penting, tapi kronos berulang sebelumnya penting. Paulus waktu pakai kata momen, ini mencakup kronos juga di baliknya. Bagaimana penebusan terjadi? Menebus lebih mahal dari yang kita jual. Dalam hidup sehari-hari, kita masuk ke banyak pilihan yang mengikat. Tetap lebih baik lepas dari sana ketimbang terikat. Anda tebus waktu berarti sebelum masuk ke momen jerat, lebih baik lepas itu. Misal bangun relasi dengan orang tak percaya, masa depan tuai momen pernikahan, ini bom waktu besar. Lebih baik lepas dan tebus itu, walau bayar harganya tinggi. Dalam bagian lain, kejar karir atau nilai berlebih, dipikir ini hal penting. Juga kepuasan yang makin lama makin mengikat. Melihat waktu saksama berarti tahu saya sekarang menuju ke mana, kronos ke kairos mana, tahu aeksama, dan berani tebus itu dengan bayar harga! Ini terkait ayat-ayat sebelum bagaimana cara hidup orang Kristen lama (ayat 3-7). Betapa kasihannya kita yang hanya hidup dalam kronos yang salah. Evaluasi kronos Anda, banyak usaha korbankan waktu, apa ini untuk Tuhan, perhatikan dengan sqksama. Apa kita kerjakan kronos-kronos ini untuk karir Anda (anggap ikut Yesus tapi juga dunia - ini kekristenan sampah). Ikut Yesus perlu serius, tinggalkan yang salah! Orang serakah gak dapat bagian dalam kerajaan Allah. Kita hidup untuk Penebus, tapi lebih banyak hidup untuk diri?
Evaluasi hidup salah satunya perlu terang, perlu tekan saklar lampu itu! Waktu singkat bisa kita telaah: apa bijaksana? Ibu yang merawat anak itu kronos, tapi menghasilkan kairos bahagia permanen melihat hasilnya. Kadang saya diganggu Yavniel saat kerja (kesempatan berelasi walaupun mengganggu pekerjaan saya), saya pikir kapan lagi masa kronos ini tiba? Saya waktu pacaran dulu, salah satu kegiatan yang kami gemari itu PA, sekarang sulit, waktu ini memang jahat! Masa itu sudah sulit sekarang. Dulu selesai Yakobus, Filipi, 1 Yohanes. Dalam hal ini anggota KK saya paling rajin itu istri saya. Masa-masa sebelum anak lahir bisa cepat juga menghabiskan beberapa kitab, tapi sulit setelah ada anak. Kalau gak ada kronos penggalian firman, sulit sekarang kami jadikan firman fondasi keluarga. Kalau gak dibangun, bagaimana muncul? Apa Yavniel jadi anak yang cinta Tuhan - kapan momen itu tiba? Tebuslah waktu Anda karena hari-hari ini jahat! Ini kontras yang Paulus pakai. Ada yang hilang, telah kita jual ke dunia ini, tebuslah!
Ada nuansa lain di Ef 6:13, Paulus bahas perlengkapan senjata Allah. Kenapa bagi Paulus perlu senjata lengkap dalam perang ini? Dikatakan bahwa ada perlawanan (pertahanan) pada hari jahat itu dan tetap berdiri. Selesaikan segala sesuatu, lalu perlu bertahan yang perlu senjata lengkap (ketopong keselamatan, pedang firman, kasut kerelaan). Satu hari jahat, yang hebat itu, berat itu, bisa dibilang merupakan peperangan terakhir. Konteks dekat itu hari kematian dan penghakiman. Nuansa penghakiman lebih tepat dipakai, karena kematian itu bukan selesai tapi ada tuntutan penghakiman. Itu hari yang membakar, menyatakan pekerjaan yang bertahan (1 Kor 3:13). Hanya yang perlengkapan senjatanya benar (iman, kasih, dll), kita siap hadapi hari kematian dan penghakiman. Orang dekat mati baru sadar waktukah? Padahal penghakiman itu perlu dipersiapkan dari sekarang, walau hari kematian masih panjang. Menebus waktu dalam Ef 5 juga berarti tebus hari-hari jahat sekarang ini yang kaburkan hari jahat penghakiman itu. Orang yang gak ngerti mati dan penghakiman, gak ngerti hidup juga. Jangan dorong persiapan penghakiman itu ke belakang terus!
Waktu kita menjalani hidup mahasiswa, kita juga investasi masa muda, sosial, gereja, keluarga, dll. Jadi satu waktu yang sama kronos, itu investasi untuk banyak kairos ke depan. Banyak aspek yang mau dicapai, dan adakah waktu kita sisipkan untuk siapkan hari penghakiman? Melalui firman sebagai pedang, ikat pinggang kebenaran, ketopong keselamatan, dll, tebuslah momen Anda, juga supaya Anda siap lawan di hari jahat itu. Hari jahat sekarang ini, mendistraksi kita. Orang Kristen yang siap, gunakan senjata lengkap. George Whitefield itu gak bisa tidur kalau belum taruh kaos kaki di tempat benar, karena malu bertemu Tuhan. Hal kecil ia siapkan hadapi penghakiman. Dalam Alkitab, gadis bodoh itu gak persiapkan hari itu (kairos), sehingga pelita gak diisi minyak (kronos). Tebuslah hari-hari ini, momenmu, karena hari-hari ini jahat. Biarlah Roh hidupkan kita sehingga firman yang kita pelajari boleh berguna, termasuk gunakan momen mendengar dan refleksi firman ini untuk menebus momen hidup kita! Mari kita berdoa.