KK 17 Feb 2022 (narsum: Billy, transkrip: Stefanus)

Nas: Yak 1:9-18

Ini kali kedua saya bawakan dari surat Yakobus. Empat minggu lalu sempat dari ayat 1 sampai 18. Ada beberapa paragraf, saya akan bahas per paragraf lagi dari ESV.

Rangkuman pembahasan sebelumnya adalah sebagai berikut. Pertama, ada salam dari Yakobus sebagai saudara Yesus tapi perkenalkan diri sebagai hamba, tidak tinggikan diri. Kedua, bahagia dalam ujian, karena bukan tidak ada makna, tapi ada tujuan mulia agar kita tekun dan sempurna. Ketiga, cara hadapi ujian, kita minta bijaksana, bukan jalan keluar. Harap ujian itu bukan lewat saja, tapi kita dilatih tekun, sempurna. Minta dengan iman bukan ragu, dan tanpa iman ini kita ada rencana cadangan dan Tuhan tidak beri. Itu rangkuman lalu.

Hari ini bagian 1 dari ayat 9-11, bahas tentang uang, orang miskin dan kaya. Kalau lihat di sini, penempatan paragraf, diletakkan diantara pembicaraan tentang ujian. Ini indikasikan, salah satu ujian nyata orang Kristen itu masalah kaya dan miskin. Bisa dikonfirmasi juga, karena Yesus bilang kita gak bisa abdi pada Tuhan atau mamon. Ini spesifik dibandingkan langsung! Permintaan Yesus dalam Doa Bapa Kami juga awalnya terkait materi. Jadi ini ujian penting orang Kristen: tentang materi. Ayat 9, miskin bangga dalam peninggian, kaya dalam kerendahan hati. Biasa orang miskin minder, kaya itu sombong. Di sini, yang miskin justru bangga dengan statusnya, yang kaya perlu rendah hati dan bukan banggakan kekayaan. Mengapa biasa orang miskin rasa inferior, kaya superior? Karena ada konsep bahwa dengan uang kita bisa melakukan sesuatu dengan kuasa, jadi seperti Tuhan. Tapi ini gak benar. Tapi kenyataannya bukan begitu, kenapa?

Alasan pertama, seorang bergantung pada banyak hal lain selain uang. Di ayat 10, ditulis bunga itu seperti lenyap, dan terik matahari layukan rumputnya. Bunga gak bisa rasa paling kuasa, karena hidupnya ditopang bagian lain, akar, rumput, dll. Uang itu ditopang banyak hal lain, misal tenaga, kesehatan, otak, lahan, dll. Jadi gak bisa kita anggap uang itu beri kuasa sebesar itu. Inilah salah satu alasan orang kaya tidak boleh rasa superior.

Alasan kedua, orang itu juga akan hilang, gak bakal bertahan, suatu saat akan hilang juga dan hadapi penghakiman. Suatu saat orang kaya juga hadapi situasi dimana uang tak biasa selesaikan masalah. Patah hati dan penolakan tak bisa diselesaikan dengan uang, dan puncaknya adalah fakta kematian yang tidak bisa ditutup dengan uang. Di hadapan Tuhan, uang juga tidak membantu kita di hari penghakiman. Orang yang hidup tergantung uang akan lenyap pula. Orang yang kejar uang itu biasanya akan sibuk, habiskan waktu untuk kumpulkan dan pakai uang. Saya pernah dipakai hadiah mesin kopi, saya perlu ada usaha mempelajari dan gunakan mesin kopi itu! Lebih lagi, kumpulkan dan gunakan uang, itu perlu banyak komitmen, perlu korbankan hal lain misla relasi, kerohanian, disiplin, mengenal diri, dll. Hadapi hari penghakiman, jadi gak siap, dan inilah yang dimaksud dengan lenyap. Jadi, uang itu pertama ditopang hal lain, dan juga uang itu juga tidak tahan nantinya. Maka orang kaya tidak boleh superior akan uang yang dimiliki, malahan perlu rendah hati. Memang sulit, misal bisa orang kaya pikir dan persepsi bahwa dia pintar segala bidang, yang ditandai dengan kesuksesan keuangan. Ini digeneralisasi. Waktu melihat orang lain juga, lihat orang lebih rendah status ekonomi, juga diperumum dalam hal segalanya dia lebih rendah. Ini jebakannya yang dimiliki orang kaya tersebut. Justru Yakobus ingatkan orang kaya perlu bermegah dalam kerendahan hatinya. Kita bisa terapkan ini juga saat kita menghadapi orang lain: apa kita menghormati lebih orang berdasarkan status keuangan? Gereja di sini bisa jadi kontra terhadap budaya di sini!

Satu contoh saja refleksi saya, orang kaya dengan persepsi serong, Jeff Bezos, Bill Gates, Steve Jobs, tiga itu pintar dalam kelola perusahaan. Tapi belum tentu mahir kelola keluarga ya. Jangan sampai kita anggap sukses satu bidang, berarti sukses segala bidang juga. Kita perlu bermegah akan karya Kristus. Yang miskin bisa bermegah dalam ini. Yang kaya merasa malu akan kekayaannya karena dia pun perlu Kristus dimana kekayaannya tidak cukup selamatkan. Orang kaya yang bisa menyadari yang benar, rendah hati, bisa bermegah. Kita gak bisa perumum orang kaya pasti salah, karena walaupun masuk kerajaan Allah sesulit unta masuk lubang jarum, Zakheus pun diselamatkan.

Bagian 2, ayat 12-15, balik lagi bahas ujian dibandingkan dengan pencobaan. Ujian itu positif, pencobaan itu negatif. Dalam ayat 12, bahagia yang tekun dalam ujian, dijanjikan mahkota kehidupan, ini menambah ayat 2-4. Jadi ujian menghasilkan ketekunan, kesempurnaan, akhirnya berujung pada mahkota kehidupan. Inilah rantainya: ujian, ketekunan, kesempurnaan, mahkota hidup. Untuk capai mahkota hidup, perlu melewati ujian-ujian itu. Hidup Kristen itu bukan tanpa ambisi. Aldrich sering bilang orang Kristen itu zona nyaman. Tapi di Alkitab inilah ambisinya ya, ujian, tekun. Ayat 12, mahkota hidup dijanjikan Allah bagi yang mengasihi Allah. Kita bisa percaya Tuhan untuk jadi penyelamat kita, atau taat karena takut dihukum, tapi di sini dasarnya adalah mereka yang cinta kepada Tuhan. Ini bisa nyambung sama pembahasan PAP, 1 Kor 13, banyak hal sia-sia tanpa kasih. Ujian, ketekunan, kesempurnaan, mahkota hidup. Dibandingkan ayat 13 dengan pencobaan, dimulai dari keinginan, lalu dibuahi, lalu dosa, lalu kematian. Inilah rantai dari pencobaan. Jadi ada dua jalur, jalur ujian dan jalur pencobaan. Satu ujungnya mahkota hidup, satu lagi kematian.

Pelajaran pertama di ayat 13, bahwa kita gak bisa salahkan Tuhan untuk perbuatan dosa kita. Ujian dan pencobaan bahasa aslinya sama, berawal dari hal yang sama, tapi ujungnya bisa beda. Hal sama itu, kalau kita masuk ke jalur salah, maka kita gak bisa salahkan Tuhan. Tuhan tidak mencobai siapa pun. Jadi refleksi ya, kita ada kecenderungan, kita berdosa salahkan situasi, misal perlu menyontek karena kurang pintar, curi karena kurang uang, dll. Tapi situasi yang sama bisa jadi ujian. Yesus alami pencobaan, tapi ujungnya tekun, sempurna, mahkota kehidupan. Jadi ada dua jalur awalnya sama. Tentang pencobaan, di ayat 15, ada perumpamaan, keinginan itu ketika dibuahi itu hasilkan dosa. Gambaran biologis kalau sudah ada pembuahan sperma dan sel telur, gak bisa hentikan. Caranya adalah hentikan pembuahan, karena akan berlanjut ke dosa. Kita perlu hentikan di masa-masa awal, jangan sampai pembuahan terjadi.

Piper ada tips praktis: ANTHEM hadapi pencobaan khususnya seksual, Avoid (cegah situasi yang bawa ke sana), No (katakan tidak dalam 5 detik pertama, sering kita pikir aman, tidak apa-apa), Turn to Christ (lihat pengorbanan Tuhan untuk kita), Hold the promise of God (lihat janji Tuhan pada kita), Enjoy the superior satisfaction (nikmati kenikmatan yang lebih tinggi itu), Move away from idleness to useful activity (isi waktu kita dengan hal membangun). Ini tips praktis cegah pembuahan ini. Ini bisa dipakai juga untuk hal lain misal iklan. Sekali klik rasanya oke, tapi kita akan terus dikejar sampai kita beli. Cara iklan Google bekerja, mereka mengerti gak cukup iklan pertama, maka mereka jual paket ragam dengan target misal seorang akan beli setelah lihat ke-10, jadi akan ditunjukkan di 10 ragam situs. Kalau kita klik satu, masuk terus, jadi katakan tidak dulu di awal! Banyak godaan lain juga, misal kemarahan, terapkan ANTHEM ini. Juga berlaku dalam pencobaan iri hati, egois saat sibuk, dll, Ujian berujung pada mahkota hidup, dan pencobaan pada kematian. Kita tidak bisa salahkan Tuhan dalam jalur yang salah. Dan masa krusial hadapi pencobaan itu sebelum pembuahan yang membawa pada dosa.

Bagian 3, ayat 16-18 dukung paragraf sebelumnya, karena karakter Tuhan yang baik dan tidak berubah ini. Tiap pemberian baik itu dari atas, Bapa segala terang, tanpa perubahan, dll. Di paragraf sebelum, Tuhan tidak beri yang buruk. Di sini, ditekankan semua yang baik itu dari Tuhan, segala kredit dari Tuhan. Lanjutannya, dikatakan Bapa segala terang, tanpa perubahan atau bayangan. Beberapa penafsir bilang ini gambaran properti Tuhan, misal kita lihat matahari sebagai gambaran Allah yang terang sejati. Matahari berikan terang, dan matahari itu tidak pernah berhenti bersinar, tak pindah tempat, tapi kita gak lihat begitu yam seakan matahari pergi. Persepsi kita gak lihat matahari gak menghilangkan fakta bahwa matahari tidak berubah, sekalipun gerhana, mendung, bumi putar. Hidup kita situasi berubah, seakan Tuhan hentikan kebaikan, tapi sebenarnya Tuhan tak berubah, yang berubah kita. Ayat 18, kebaikan Dia terbesar adalah lahirkan kita melalui firman kebenaran! Kalau dia sudah bawa kita ini, bagaimana kita curiga ke Dia? Dia sendiri berikan keselamatan, apalagi yang kita ragukan? Dia mau kita jadi buah sulung ciptaan. Kristus adalah buah sulung orang Kristen. Itu bagian terakhir, argumen pendukung tentang kecurigaan kepada Tuhan. Pakai gambaran terang matahari yang terang tak berubah walau terlihat datang dan pergi. Lalu juga argumen lain Tuhan sudah selamatkan kita, masakan kita curiga kepada-Nya.

Mari kita lihat segala situasi sebagai ujian yang ujungnya mahkota kehidupan, dimana momen awal kita itu paling penting, supaya tidak berbuah dosa. Hati-hati dan serius hadapi cobaan yang datang ini.