Nas: Yak 1:1-8 (narsum: Billy, dengan beberapa tambahan lain, transkrip: Stefanus)
Bahas berurutan, mau coba begini, biasanya tema yang berubah-rubah. Sekarang mau coba eksposisi berurutan, ada yang bisa tebak dari kitab apa? Mengikuti suara terbanyak dari KK, KK kita ada dua Yakobus, maka saya bahas dari kitab Yakobus.
Konteks dari Yakobus. Saya sendiri sering dengar ayat hafalannya, tapi jarang dibahas ya. Ada beberapa konteks, ditulis Yakobus saudara Yesus, yang baru percaya belakangan, ditulis ke orang Yahudi Kristen, kontra Paulus yang melayani orang Kristen baru. Ada tertulis, iman tanpa perbuatan adalah mati, dan orangtuaku (James Clement) menamainya dari kitab ini. Iman tanpa perbuatan ini, sering ditentangkan dengan ajaran Paulus yang tekankan anugerah, maka orang sering pertentangkan.
Itu konteksnya. Kalau dibaca, lain dari surat Paulus yang ditujukan pada jemaat spesifik dengan masalah tertentu, sepertinya ini lebih sporadis, banyak tema yang kelihatannya gak terlalu berhubungan atau nyambung. Mungkin lebih mirip Amsal ya dalam hal ini. Waktu baca ini bisa pakai pola pikir, beda dengan Paulus yang perlu presentasi struktur ke orang Kristen baru, Yakobus lebih tekankan bagaimana iman yang telah diketahui ini dilakukan. Memang ada jarak ya antara yang diketahui dan dilakukan. Misal ambil TOEFL, nilai berbicara paling rendah dari yang lain kah? Mungkin kita mengerti polanya, tapi waktu dilakukan sulit ya. Sebagai orang Kristen tahu, tapi ada hilang di eksekusinya. Di fakultas Teknik, Nadiem tulis bahwa yang membuat sukses bukan ide tapi eksekusi. Memang tidak mudah. Harap dengan belajar kitab ini kita bisa menjembatani yang kita tahu dan lakukan. Hari ini kita bahas ayat 1-8. Kita bacanya bahasa Inggris. Bagian 1 ayat 1, bagian 2 ayat 2-4 (bahagia dalam ujian), bagian 3 ayat5-8 (bijaksana hadapi ujian).
Bagian pertama, surat ada salamnya. Yang menarik, Yakobus itu sebenarnya orang penting, saudara Yesus sendiri, guru besar di Yerusalem, tapi waktu perkenalkan diri ditulis hamba Tuhan Yesus. Ini masalah identitas, kita manusia sering pakai asosiasi untuk tinggikan diri. Misal saya di Malang, ditanya nama, saya jawab Billy, anak Pak Agung Gunawan (orang tahu ini pendeta). Tunjukkan saya bukan orang biasa saja, tapi anak seseorang yang diketahui. Atau waktu kenalan sama orang, tanya juga kenal X, Y, dsb, untuk tunjukkan bahwa saya kenal banyak orang. Juga status di LinkedIn, asosiasi dengan nama tertentu. Atau asosiasi GRII, Pdt. Stephen Tong. Tapi Yakobus gak pakai asosiasi saudara, tapi hamba dari Tuhan yesus. Identitas kita dalam Kristus, apa kita masih usaha, cari identitas. Dapatkah rasa aman dalam Yesus?
Pada 12 suku di perantauan, mungkin ditulis ke orang yang tersebar. Kita sebagai orang Kristen, kita juga terpencar, sebagai musafir, dunia ini bukan rumah kita. Dalam keterpencaran, Tuhan juga menyertai, melalui surat Yakobus. Ini memberi kekuatan kepada kita yang terpencar, ada penyertaan Tuhan juga. Ini lebih terasa kalau orang lama di Singapura, balik Indonesia gak ada komunitas. Sudah banyak komunitas nyaman di Singapura. Tapi dari sini, kalau pun kita harus hadapi itu, Tuhan bisa sertai kita, dan suatu hari Tuhan akan persatukan kita lagi. Itu bagian pertama. Ditulis ke 12 suku Israel, konteks aslinya orang Israel. Tapi ada relevansi buat kita orang Kristen. Seperti penerima surat Paulus itu Timotius, juga berguna untuk kita.
Kita lanjut ke bagian kedua, ayat 2-4. Setelah salam, langsung ada penghiburan dalam pencobaan. Mungkin penerimanya alami ujian ya. Yang menarik, berbahagia "ketika" hadapi pencobaan. Ada beda antara ketika vs bila. Misal ada perkataan "not if but when", maksudnya itu akan tiba. Hidup orang Kristen juga begini, pencobaan akan tiba. Ini unik ke agama Kristen, prinsip seperti ini. Di agama lain, kita baik kepada Tuhan supaya hidup kita lepas dari masalah, baik saja. Di Kristen, hidup kita pasti ada pencobaan. Terutama kita, di Yakobus ini, ada perintah, berbahagialah. Kalau gak ada perintah, mungkin kita gak akan lakukan. Respon alami orang hadapi pencobaan apa? Mengeluh, putus asa? Mengapa terima pencobaan itu sulit? Dalam konteks modern, cara pandang kita ke dunia makin sekuler. Hidup itu di dunia ini, di sini saja, tanpa hidup mendatang. Hidup singkat ini dipakai dan dinikmati sepuas-puasnya. Waktu orang makin sekuler, harapan orang makin berakar di dunia ini. Kalau ada kesulitan, beda dengan ekspektasi, lebih mudah kecewa. Jadi orang modern lebih sulit terima kesulitan dalam hal ini. Orang Kristen bisa tak langsung terpengaruh ini. Makanya ada tren, cara bisnis sukses adalah menyenangkan pelanggan sebagai raja. Di Shopee, kalau pembeli tidak puas, dibela dulu walau belum tentu kerusakan barang terverifikasi. Inilah tanda kehidupan khalayak yang sulit hadapi kesulitan.
Dalam tingkat yang lebih mendalam, orang segala zaman ada kecurigaan kepada Tuhan: hidup harus sesuai jalan kita, kalau tidak ada yang salah. Sulit percaya Tuhan beri yang terbaik bagi kita. Kita mau pakai jalan sendiri. Bisikan setan di taman Eden adalah membuat kita curiga perkataan Tuhan bahwa makan buah itu bisa mati, bahkan digoda untuk bisa seperti Tuhan. Padahal dari Alkitab dan pengalaman hidup, banyak penyertaan Tuhan yang berujung baik: hal yang dulu kalau pakai cara kita akan celaka sekarang. Jadi ini kesulitan kedua, kita curiga kepada Tuhan.
Yang ketiga adalah kita tidak sadar seberapa bobroknya kita yang perlu pertolongan. Orang yang divonis kanker, dia rela diterapi, operasi, supaya bisa selamat. Tapi tanpa sadar kritisnya kondisi, ia tak mau. Secara rohani, kita sering gak sadar dosa yang masih banyak melekat, dan Tuhan perlu kikis itu. Tapi di ayat ini dikatakan kita perlu berbahagia, karena 1) hidup tidak di dunia saja, 2) Tuhan yang mengizinkan itu baik dan setia, 3) pencobaan itu memurnikan dan baik untuk kita (gambaran emas yang dimurnikan seperti di surat Petrus). Inilah alasan sehingga kita bisa bahagia. Orang dunia punn tahu orang yang tak hadapi kesulitan jadi naif (gagal awal lebih baik, daripada gagal belakangan). Dalam hal ini, kegagalan itu bernilai, kesulitan ini bernilai. Dalam perspektif Kristen, ujian itu menyadarkan kita akan keterbatasan kita. Ada cerita orang kaya mau bersepeda ikut orang, ngebut pertama kali, lalu dia tidak kuat dan pingsan karena tidak biasa. Kadang orang sukses dalam hal tertentu, rasa bisa lakukan dan akan sukses lakukan hal lain. Padahal tidak. Dia tak sadar keterbatasan dirinya. Tapi melalui kesulitan, kita sadar keterbatasan diri kita, juga bersimpati pada orang lain, juga sadar perlu bergantung pada Tuhan. Berbahagia hadapi pencobaan. Ini beda dengan ajaran di luar Kristen, maksimum adalah tetap tenang hadapi cobaan. Tapi di Kristen, lebih tinggi lagi, kita berbahagia, karena akan hasilkan ketekunan.
Lalu ayat 4, ketekunan hasilkan buah matang. Kita waktu dihadapkan cobaan perlu tekun sampai lengkap, bertahan sampai selesai. Hadapi kesulitan, kita sering mau potong saja, cukup sampai tengah jalan. Tapi di sini, kita perlu tahan sampai lengkap. Mari kita hadapi cobaan bukan dengan enggan atau mau berhenti tengah jalan, tapi biarlah itu lengkap. Ekonomi Tuhan itu sempurna: kita gak bisa tahan karena kita lihat yang kita punya hari ini gak cukup untuk tahan, tapi ekonomi Tuhan itu kekuatiran sehari cukup untuk sehari. Di tempat lain, kemurahan Tuhan itu baru tiap bagi. Suplai Tuhan itu baru tiap pagi. Jangan sampai ekstrapolasi kesulitan kita ke depan itu jadi membuat kita lesu. Tetaplah bertekun hadapi cobaan. Waktu belajar sulit, gak gampang menyerah. Waktu pacaran, ada kesulitan, waktu ada tantangan kerja, jangan langsung mau keluar. Jangan sampai kesulitan itu mudah membuat kita menyerah. Itu bagian kedua, bahagia hadapi cobaan, untuk sesuatu yang mulia dan kekal, dihadapi dengan tekun sampai lengkap.
Bagian ketiga, waktu kita hadapi pencobaan, apa yang paling kita perlukan? Kekuatan, kejelasan, pengharapan, jalan keluar? Tapi di sini, yang perlu kita minta adalah bijaksana. Ini yang pertama diajarkan oleh ayat ini. Bijaksana itu apa sih? Biasa orang bijak itu bagaimana? Pikir solusi kreatif (misal Salomo yang usulkan belah anak saat perebutan)? Ngomong indah? Tapi bijaksana di Alkitab itu, miliki cara pandang dan cara pikir Tuhan (termasuk mengerti rancangan dan pengaturan Tuhan di dunia). Terus kenapa Yakobus bilang minta bijaksana? Ada dua kegunaan bijaksana hadapi kesulitan. Pertama, bijaksana hadapi kesulitan, agar tahu apa yang perlu dilakukan secara aktif (kontra menerima dengan pasif). Naik wahana putar itu menakutkan, tapi menghadapinya pasif. Tapi pesawat jatuh, perlu dicari jalan keluar dengan aktif, ini perlu bijaksana. Ada harmoni indah antara anugerah Tuhan dan tindakan aktif kita. Kedua, kegunaan bijaksana adalah memakai pencobaan ini secara berguna. Tahu mengapa Tuhan memberi ujian ini? Agar kita dimurnikan dan lebih baik. Waktu hadapi kesulitan, orang bisa jadi lebih baik atau pahit. Bisa pakai kesulitan supaya rohani maju atau buat kita jadi kecewa. Perlu bijaksana untuk bisa lihat yang pertama. Misal seorang merasa sudah rajin layani, nilai kurang baik, secara alamiah jadi pahit. Tapi dengan bijaksana, saya bisa refleksi apa Tuhan mau bentuk saya supaya tidak mendewakan nilai. Dalam hal ini kita jadi maju. Tanpa bijaksana ini, kita jadi kecewa dan pahit. Jadi ada dua kegunaan bijaksana. Bijaksana ini diperoleh darimana? Dari Tuhan! Mungkin kita ada kecenderungan kalau ada masalah yang pertama dicari itu orangtua, senior, teman, pendeta? Tapi kita perlu ingat, ada masalah pertama datanglah ke Tuhan, Tuhan akan berikan. Waktu kita minta yang sesuai kehendak Tuhan, akan diberi.
Bagaimana cara minta, di ayat 6, dalam iman tanpa ragu. Manusia waktu minta sering punya rencana cadangan di belakang (kalau Tuhan gak kasih pun saya ada rencana lain). Justru orang yang begitu terombang-ambing, kaki dia dua perahu, tidak tahan hadapi ombak. Di ayat 7, kalau cabang hati gak akan dapat. Ini paradoks hidup, kalau kita minta gak yakin (ada rencana cadangan) jadi gak dapat. Tapi kalau sepenuh hati, jadi dapat. Ada khotbah Pak Billy, yang mengutip pendeta lain, Gideon disuruh berperang, tapi Tuhan kurangi pasukannya dari banyak sekali jadi sisa 300 saja. Tuhan mau waktu perang, bukan sandar kekuatan militer, tapi dikurangi sampai ada kesadaran tanpa penyertaan Tuhan pasti kalah. Tuhan letakkan kita di kondisi itu supaya kita bergantung pada-Nya. Andalkan kekuatan sendiri jadi gak dapat, misal Abraham setelah dijanjikan anak, dia jalankan cara lain dapatkan Ismail. Padahal Tuhan akan beri. Waktu Israel kehausan, Musa sampai ketuk batu dua kali dan karenanya ia tidak boleh masuk Kanaan. Padahal jalan sedikit lagi ada sumber air. Tapi Israel pakai cara sendiri. Waktu kita andalkan diri, justru gak bagus. Kita minta bijaksana, gak bergantung sumber daya sendiri, tapi dengan penuh iman minta dari Tuhan. Itu bagian ketiga. Waktu kita hadapi ujian pencobaan, kita perlu bijaksana, diminta dari Tuhan tanpa ragu.
Mari kita menjadi orang yang rela dibentuk. Meski menakutkan, kita merelakan diri dibentuk Tuhan, seberapa sulit, karena kita sadar kita masih penuh cacat.
Tambahan Ko Ian: Kesempurnaan Kristen itu, menurut Yak 1:4, bukan sesuatu yang sifatnya mahir sempurna tapi tidak kekurangan. Orang pikir sempurna itu punya 1-2 atribut yang sempurna (kaya, cantik, mahir satu bidang) itu orang sempurna. Tapi yang penting tidak kurang dalam hal apa pun. Kita sempurna kalau kita tak kekurangan dalam aspek apa pun. Dalam konser gitar, bukan yang penting itu mahir main satu bagian yang sulit (perlu teknik banyak). Lagu baru terdengar indah kalau main tanpa salah. Secukupnya saja cukup, asal tidak ada salah. Kita jadi lebih perhatian ke kelemahan kita. Guru gitar saya ingatkan, main latihan yang bagianmu paling lemah. Dalam pembentukan Tuhan di hidup, kenali kelemahan kita dan kikis itu. Jangan biarkan itu jadi kompetitor firman yang ditabur, seperti hama tumbuh cepat sehingga tumbuhan firman itu mati. Hama itu perlu dicabut dan dikikis, baik itu kekuatiran, cinta akan uang, dsb Jadi, kesempurnaan Kristen itu bukan sempurna satu hal tapi tak kurang apa pun.
BJG: Di gereja, ada orang yang tipe lebih baca buku teologi, ada yang lebih perhatikan orang. Orang yang satu rasa saya ini saja cocok, bagian lain dikerjakan yang lain saja. Tanggapan Ko Ian: Selama orang itu gak kurang, tidak apa-apa. Dalam publik bisa saja orang lain lebih cocok. Tapi kita perlu pakai cara sama di publik GRII. Apa ada yang kita harus punya tapi gak punya. Bukan perhatikan apa yang kita sudah mahir. Jadi masalah kekurangan dalam komunitas bisa dibedakan dengan masalah kekurangan dalam pribadi. Tapi intinya adalah kita perlu lebih perhatian akan hal yang kita kekurangan, bukan pamerkan standar dimana kita mahir (dengan dalih gak apa-apa kurang ini yang penting sudah ini).
Ko Ian: Dikatakan perlu hadapi pencobaan dengan tekun, maka ada indikasi bahwa pencobaan itu berulang dan berkepanjangan. Dalam ujian itu, yang penting itu ketekunannya. Bagi orang yang baru belajar sepeda, yaitu menyimpan tenaga dengan stabil. Dalam kita hadapi cobaan, secara natur cobaan, kita hadapi dengan sabar, karena perlu waktu untuk dibentuk. Tahan kerja sulit 3 bulan, tapi 1 tahun tahankah? Apa yang kurang di sini? Ketekunan, kesabarannya. Ini hal yang penting untuk mendewasakan. Dewasa perlu waktu, bukan jalan cepat. Misal anak saya kalau gak mau makan, jalan pintas itu pukul supaya dia makan. Tapi dia akan pikir ada kekasaran terjadi pada hal kecii ini. Dalam hal ini, saya perlu tekun dan sabar hadapi kesulitan makan Yavniel. Hal sama kesabaran dan ketekunan perlu ada waktu hadapi kerja dll juga.
Pertanyaan Ko Ian 1: Apa tujuan Tuhan, mengapa Tuhan mau kita bergantung sepenuhnya kepadanya? Apa iman dan kedewasaan yang mau dibentuk Tuhan dalam hal ini? BJG: Untuk menyadarkan kita bahwa kita gak bisa selamatkan diri sendiri? Jawaban: Menyadarkan kita bahwa Tuhan sendiri saja cukup. Ini pelajaran penting dari pemeliharaan Tuhan, yang sertai kita, bahwa kita cukup di dalam-Nya. Tapi apa kaitan ini dengan bijaksana (mengapa Tuhan mau kita pakai bijaksana, bukan cara mudah langsung dari Tuhan)? Tuhan mau kita bergantung sepenuhnya pada Dia, tapi di ayatnya Tuhan beri bijaksana dengan melimpah (graciously) - beda dengan waktu Tuhan beri uang. Tuhan beri bijaksana tanpa menahan. Lalu kaitannya bagaimana? Tuhan pakai cara beri kita bijaksana, bukan cara pintas misal atasan kantor yang sulit alami kecelakaan. Bedanya Tuhan beri bijaksana vs cara pintas yang mudah? Waktu main catur kondisi kritis, cara pintasnya adalah papan catur terbalik, tapi cara bijaksana itu adalah bisa peroleh langkah dewa keluar dari situasi pelik. Bedanya cara bijaksana, adalah aturan main tidak diubah, dan kita memperkuat kemahiran kita bermain. Di masa depan jadi ada kemahiran, pengalaman, hadapi situasi yang mirip di masa depan. Sehingga dalam situasi sulit itu kita terus bertumbuh. Dan dalam hal ini, sukacita kita pun jadi penuh (seperti main catur menang hadapi kesulitan)! Bijaksana itu pemberian yang baik, kita jadi makin maju, walau tetap bergantung pada Tuhan. Bukan cuma bergantung sama Tuhan, tapi ada pengalaman menang.
Pertanyaan Ko Ian 2: Selanjutnya, adakah hal yang tetap Tuhan berikan walaupun kita ragu (kalau bijaksana kan Tuhan tidak berikan)? Kesetiaan, pemeliharaan Tuhan (sekalipun kita ragu, kita tidak setia). Salah satunya juga adalah tanda bagi orang yang ragu. Tapi Tuhan tidak perlu berikan tanda (walau Ia bisa berikan) untuk mereka yang tidak percaya. Tanda buat orang ragu jadi percaya. Hal lain juga adalah firman, Tuhan gak berhenti berkata-kata ke anak-anak-Nya, memberi koreksi, penguatan, dll. Ini berguna untuk orang ragu-ragu. Yakobus tulis firman (gak dipotong) ke orang yang ragu-ragupun agar dikuatkan. Ini bantu kita untuk tahu bagaimana tolong orang yang ragu-ragu, mungkin gak bisa bijaksana, tapi firman. Ketemu orang yang minta bijaksana, tapi dia rasa dia lebih bijaksana, terus salah jalan jadinya. Bijaksana gak bisa masuk. Tapi kita bisa berikan tanda (kesaksian orang lain), firman, kesetiaan. Dalam hal lain selain bijaksana ini, kita masih ada harapan, dan dapat terus kita salurkan.
Bijaksana Kristen di sini berada di bawah payung moral. Dunia melihat bijaksana di atas payung moral: mereka yang bijaksana, misal dalam strategi militer Tiongkok kuno, adalah mereka yang dapat mengelabui atau menipu. Tetapi dalam kekristenan, bijaksana itu termasuk di dalamnya memilih yang benar secara moral. Bijaksana kita sendiri bisa jatuh kalau tidak disertai dengan pengenalan akan Tuhan yang benar. Salomo yang paling bijaksana akhirnya jatuh. Secara alamiah, bijaksana kita sendiri yang mau kita pakai, misal jalan pintas tidak peduli moral. Tapi kita perlu minta bijaksana dari Tuhan yang dikatakan murni pertama-tama (3:17)! Langkah ini kelihatan tidak alamiah memang, tapi inilah yang benar dan menyelamatkan (seperti langkah dewa pada catur yang kelihatan salah), seperti Yusuf yang menolak godaan istri Potifar!