KK 24 Feb 2022 (narsum: Bpk. Ian Kamajaya, transkipsi: Stefanus Lie)
Nas Utama: Ibr 10:25
Kita mulai ya. Dari ayat ini saya akan rujuk ke ayat lain juga. Kita akan belajar satu kebiasaan penting yang perlu kita kembangkan dan hayati dalam kehidupan Kristen. Ayat kunci dari Ibrani 10:25 (saya bacakan Ibrani 10:20-39). Dikatakan kita punya Imam Besar yang buka jalan, aplikasinya pertama kita bisa hadap Allah dengan hati tulus ikhlas. Lalu kedua, kita berpegang teguh pada pengharapan. Lalu aplikasi ketiga, dorong satu sama lain dalam pekerjaan baik. Jadi, pertama ke Tuhan, kedua ke diri, ketiga ke sesama. Masih lanjut ketiga, jangan jauhkan diri dari pertemuan ibadah kita, lalu ada rujukan eskatologi jelang hari Tuhan mendekat. Kemudian juga ada peringatan: ada dosa sengaja yang diperingati agar tidak dilakukan. Ini ditulis setelah bagian tentang pertemuan ibadah. Kematian, penghakiman, api. Untuk menguatkan poin ini, hukum Musa dibandingkan dengan kesengajaan menginjak Anak Allah. Tuhan akan menghakimi umat-Nya, ini peringatan lagi. Lalu ada dorongan, setelah menderita, bertahan dalam perjuangan, ini kemungkinan konteks orang Kristen di Roma dimana banyak mereka dijadikan tontonan di Koloseum, seperti orang tahanan. Mereka hartanya dirampas, mungkin oleh kaisar Roma tidak akui sekte Kristen yang baru, sehingga kepemilikan properti mereka dicabut dan mereka perlu keluar. Dari sini para ilmuwan biblika bisa beri penanggalan Ibrani, misal setelah tahun 60. Ada kutipan PL dari Hab 2:3-4, ini gaya guru Yahudi untuk kuatkan poin yang dibawakannya, tanpa harus terkait langsung. Banyak yang bisa kita bahas di sini, tapi saya fokus ke Ibr 10:25, jangan jauhkan diri dari pertemuan, tapi saling mendorong, jelang hari Tuhan mendekat.
Setiap pertemuan manusia memiliki semangat sendiri. Orang bertemu itu ada ragam alasan, harapan dalam satu pertemuan. Anda mau lihat kompetisi pertandingan, Anda harapkan kemampuan pemain, sportivitas, kekaguman dari penampilan, dan Anda miliki ini bersama penonton lain. Pengelola pertandingan tempatkan lapangan, juri, kursi duduk, serta segala pendukung demi mengakomodasi semangat pertandingan ini. Dalam latar pernikahan, dua orang disorot, yang lain penonton, dalam segala segmen acara. Sekarang kita KK, kita lakukan dalam kondisi, tiap orang siap, ada yang bagikan firman, ada yang catat, kita cara tempat jauh dari keramaian, fasilitasi daring, harap ada ajaran, merenungkan firman. Ini semangatnya beda kalau kita misal mau makan bersama. Jadi pertemuan apa pun ada semangatnya, dan kita coba fasilitasi agar semangat itu ada.
Masalahnya, orang Kristen dalam pertemuan Kristen, semangatnya bergeser. Memang tetap ada semangat yang turut dari satu pertemuan, tapi semangat ini bergeser. Dorongan penulis Ibrani itu agar orang tidak menjauhi pertemuan. Begitu besar masalahnya sampai penulis Ibrani kaitkan ini dengan hari Tuhan yang mendekat itu. Dalam Alkitab, hari Tuhan yang datang diasosiasikan dengan kesabaran dalam kesulitan, kekudusan (1Yoh, menyucikan diri waktu ada harapan), penghakiman dan keadilan(semua akan dibuat benar pada tempatnya, misal di Wahyu), pemisahan orang benar dan salah (gambaran Yesus tentang domba dan kambing). Tapi Ibr 10:25 satu-satunya bagian Alkitab yang hubungkan pertemuan ibadah dengan hari Tuhan yang mendekat. Kalau kita bandingkan dengan bagian lain tentang hari Tuhan yang mendekat, aplikasinya itu dampaknya besar untuk hidup sekarang. Di sini, semangat giat dalam pertemuan ibadah jadi salah satu aplikasinya.
Hal menarik lain untuk dieksplorasi, penerjemahan Indonesia pertemuan ibadah, aslinya di Yunani katanya sangat unik, hanya muncul 2 kali, epi-sinagoge, dimana sinagoge itu tempat ibadat orang Yahudi. Bagian lain yang pakai istilah ini adalah 2Tes 2:1, kata terhimpun itu istilahnya epi-sinagoge, penggunaannya itu terhimpun dengan Dia. Dua kata asli sama bisa diterjemahkan beda dalam bahasa tujuan karena konteks yang tepat perlu dilihat dalam bahasa tujuan. Katanya epi-sinagoge untuk 2Tes 2:1, Ibr 10:25. Apa maksud Ibrani waktu pakai kata ini? Kenapa orang yang menjauhinya (pertemuan ibadah) itu dikatakan salah, bahkan kita bisa lihat ini sebagai kesengajaan dosa dalam ayat berikutnya. Kenapa ini disalahkan, apa yang terkandung dalam perbuatan itu?
Penulis Alkitab sangat tajam awasi kegiatan/kebiasaan, dan tahu esensi yang salah dengan peka. Alkitab ada pola memberikan diagnosa rohani, mereka pakai kejadian biasa untuk soroti kedalaman dosa. Ini penting agar kita bisa bercermin dan refleksi ke kita, ke kebiasaan kita yang bisa rujuk ke dosa lebih dalam. Penulis Alkitab bisa soroti hal sederhana dibawa ke dosa lebih dalam. Penjauhan pertemuan ibadah, dikaitkan dengan sengaja berbuat dosa setelah memperoleh pengetahuan kebenaran. Yang pernah Yesus katakan: kamu telah dengar, tetapi Aku berkata kepadamu (benci saudara itu membunuh), Ini sorotan Yesus kepada hal yang kelihatan sepele. Inilah pola Alkitab. Yesus katakan yang dikerjakan tangan kanan jangan diketahui tangan kiri, memberikan jangan pamer seperti Farisi - tingkah yang biasa itu justru tidak baik di mata surga. Saya coba angkat isu pertemuan ibadah yang ditinggalkan, dikaitkan dengan sengaja berbuat dosa, inilah gambaran pola Alkitab, agar kita juga bisa peka akan dosa yang merayap masuk dalam kebiasaan kita yang sepertinya sepele. Manusia sulit soroti hal kecil ini, tapi Alkitab bisa soroti lebih tajam, menyingkapkan esensi dosa, terutama untuk diaplikasikan ke diri sendiri sebagai cermin. Ini agar kita tanggung jawab secara pribadi ke Tuhan, bukan untuk hakimi satu sama lain (seperti catatan 1Kor). Penting kita soroti tingkah kita untuk tahu dosa lebih dalam, dimana orang lain sulit soroti. Melalui Alkitab, kita jadi perlu punya kepekaan rohani demikian.
Bentuk pertemuan ibadah zaman purba dahulu mungkin sekarang sudah tidak kelihatan. Seperti apa epi-sinagoge. Dalam 1Kor 11, pertemuan itu disebut dengan kata lain, tapi saya percaya pertemuan yang dimaksudkan di sana dengan Ibrani itu banyak kesamaannya, pertemuan Kristen zaman itu. Kata beda mungkin tunjukkan penekanannya, dimana di Ibrani ada penekanan hari Tuhan mendatang. Dalam Kis 2, orang percaya bentuk komunitas, kumpul bersama, setelah berpindah keberpihakan dari kelahiran dunia ke kerajaan Allah. Maka kebiasaan mereka berubah, bertobat, suka berkumpul. Lahirnya gereja mula-mula itu, orang Kristen suka kumpul hari demi hari di rumah masing-masing, berdoa, belajar ajaran rasul, pecahkan roti yang rujuk pada Perjamuan Kudus, PK diinstitusi Yesus, dilakukan senantiasa untuk ingat Dia dan beritakan sampai Dia datang kembali. Ada keterkaitan di sini antara pertemuan dan hari kedatangan Tuhan. Kita bisa asumsikan, epi-sinagoge ini ada irisan dengan Perjamuan Kudus gereja mula-mula juga, Maka PK gereja purba beda dengan yang kita lakukan sekarang. Sekarang di gereja, roti kecil, anggur bukan anggur. PK gereja mula-mula, mereka ada perjamuan kasih juga, Dalam praktik awal, gereja purba itu dilakukan ke orang yang ada rumah, bawa makanan masing-masing, makan bersama, dan setelah itu ada pecah roti dan bagikan anggur, ingat Yesus melalui peristiwa ini. Kita gak punya kepastian siapa yang bisa pecah roti dan bagi anggur. Tapi dari indikasinya, sepertinya gak perlu ada rasul juga di gereja Kis 2 ini, untuk pecah roti, tapi yang penting ada peringatan akan Yesus dan beritakan Dia sampai Dia datang. Semangat pertemuan Kristen ini mulanya adalah ingat Tuhan Yesus Kristus. Karena itu, orang Kristen pakai elemen roti anggur dengan formulasi bahasa Yesus untuk laksanakan PK mereka. Anda bisa berasa semangat yang hilang?
PK dulu orang datang ada persekutuan, makan bersama, dengan semangat ingat Yesus berikan nyawa waktu roti dipecah, ingat pencurahan darah Yesus waktu anggur dibagi. Sekarang kita PK bagaimana? Sakral, hening bukan interaksi sesama, hanya pejabat gereja yang boleh laksanakan. Beda dengan gereja purba yang lebih perayaan dengan makan bersama. Saya akan jelaskan dulu konteks sejarah. Dulu orang campur PK dengan perjamuan kasih? Kapan berubah jadi sakral, apa akibat modernisasi? Mengapa PK gereja kita itu frekuensi 3 bulan sekali, roti cawan kecil sekali? Zaman siapa ini berubah? Saya pelajari ini, dalam tulisan Yustinus Martir, dia paparkan di suratnya bagaimana PK dilaksanakan, dimana perlu didahului khotbah, barulah roti anggur dibawa ke ruangan kumpul, mereka ucapkan Doa Perjamuan, dimana yang bagikan itu perlulah penatua atau diaken. Dalam tulisan bapa gereja lain, ada semacam perintah agar orang jauhi bentuk PK yang mengandung makanan (perjamuan kasih). Agustinus bahkan larang ini.
Jadi pertemuan ibadah dengan perjamuan ini hanya berjalan pendek dalam gereja purba, dan penjelasannya adalah karena bentuk PK dimana ada makanan biasa, terlalu cepat disalahgunakan, misal di catatan 1Kor 11, Paulus tegur jemaat karena orang ke sana tidak saling menanti - semangat waktu datang itu salah. Semangat pertemuan itu bukan supaya makan kenyang. Yang datang tanpa kepantasan, akan dihukum, ini konteks aslinya. Jadi penyalahgunaan bentuk purba ini dikutuk Paulus, dan setelahnya gereja ambil bentuk lebih ketat dalam sejarah. Jadi sesuatu yang indah itu, sayangnya makin bisa disalahgunakan. Saya mau soroti, saya kuatir kita orang Kristen di sini tidak tahu alasan dari Yesus kenapa kita bertemu. Apalagi sekarang zaman konsumerisme, kita mau dapat sesuatu tanpa peduli terlibat atau tidak.
Tuhan Yesus pesankan kita dalam pertemuan, baik bentuknya maupun semangatnya, apa kita sudah jauhi? Saya tak pakai istilah PK, karena epi-sinagoge itu pertemuan. Orang Kristen kenapa sih bertemu? Kenapa datang persekutuan, gereja, apa yang dicari, semangatnya apa, bentuk apa untuk akomodasi semangat? Anda datang ketemu orang Kristen lain ngapain? Bisa alasan valid, belajar sesuatu, bersekutu. Tapi pernahkah Anda pikir kalau bertemu itu untuk ingat Tuhan yang jadikan kita bisa bertemu satu sama lain? Tidakkah tujuan pertemuan Kristen, termasuk PK, adalah kita bisa sadar kita itu bisa bertemu dari berbagai latar belakang yang beda, dalam satu tempat sama? Ini hal yang ajaib. Di KK ini, saya usia 35 dari Malang, James usia 18 lahir di Jakarta. Anda James kalau ketemu om-om usia 35, bagaimana, mau dengar dia gak? Tapi Anda mau datang rutin ke sini, bahkan menantikan dapat sesuatu, kenapa? Jawabannya sesederhana kita orang Kristen yang ditebus bersama. Ini alasan yang cukup. Saya pergi ke negara lain, ke gereja dan persekutuan mereka, dimana mereka sambut saya dengan hangat karena kepercayaan saya sebagai saudara. Ajaib kan hal ini? Gak heran tiap orang Kristen ketemu itu pesta, ini gambarkan semangat mereka, perayaan. Yang dikerjakan Yesus besar, pastilah kita tinggikan Dia, pecah roti, bagi anggur ingat Tuhan kita. Ini pestanya Tuhan! PK itu pestanya Tuhan di bumi. Ini gambaran dari perjamuan surgawi nanti. Ini semacam kemah Israel bagi kita, sebagai gambaran bait di surga. Kalau orang Israel ada tabut, Musa, dan alat ritual lain, kita memiliki PK untuk gambarkan penerimaan Tuhan kepada kita melampaui segala perbedaan, sebagai suatu perayaan, pesta Tuhan.
Ironis orang datang tanpa persiapan, dingin, malas, dan sayangnya karena alasan keteraturan itu (karena orang salahgunakan, gak hargai), pertemuan jadi bentuknya diperlemah (walaupun mungkin ini lebih baik daripada disalahgunakan). Seperti orang gagah yang melakukan kejahatan dengan tangan kaki, tangan kakinya jadi dipatahkan. Demikian pula PK sekarang kurang menyulut semangat awal PK dari gereja purba. Berubah mungkin untuk yang terbaik, tapi bentuknya jadi lemah. Karena itu, saudara, saya mau tegaskan: jangan berhenti pada bentuk PK gereja sekarang, dan memang sangat disayangkan bila bentuk tak bisa diubah. Tapi mari kita belajar dari Alkitab, Ibrani, semangat apa yang orang perlu miliki dalam pertemuan Kristen?
Dalam masa itu, ada kelompok orang dengan kebiasaan jauhkan diri dari pertemuan semacam tadi. Alasan mereka pastilah, mengandung bagian bahwa perjamuan itu bukan suatu kebiasaan yang berharga (dengan satu kesengajaan, bukan keterpaksaan). Mengapa mereka pikir begitu, mungkin pikirannya: di pertemuan itu ada makan-makan, ada pembacaan Kitab, ada yang salahgunakan? Misal di kisah Eutikus, jemaat mau sekutu dengan Paulus sebelum pergi, maka mereka PK, Paulus khotbah semalaman. Makan mungkin ada makan, khotbah, doa, persekutuan, dll. Buat orang-orang ini hal ini gak menarik, jauhkan diri dengan berbagai alasan. Kenapa mereka melihat hal ini tidak berarti? Karena mereka tidak lihat dengan kacamata rohani, tapi sebatas fisik saja (ketemu orang berpengaruh lebih penting misal ketimbang saudara seiman yang lebih miskin). Bagi mereka, dikatakan, ngeri jatuh ke Allah yang hidup. Kedegilan dan kejahatan hati manusia, tidak hargai waktu pertemuan yang ditetapkan Tuhan.
Kalau ada semangat pertemuan benar, perlulah saling dorong, makin giat lakukan, dengan tarikan eskatologis (memberitakan Tuhan sampai Dia datang). Makin dekat, wajarlah kita makin rajin. Di gereja kita waktu PK, waktunya cukup jarang, 3 bulan sekali, karena dalam tata laksana, batas minimumnya. Ada yang coba pakai batas maksimum 1 bulan sekali, di cabang lain, karena melihat nilai dari seringnya PK. Gereja kita memang tidak membuang institusi dan elemen PK, tapi sayangnya bentuk itu membuat tertib tapi keindahannya hilang. Atau bahkan sayang sekali kalau PK jadi dilihat sebagai satu-satunya momen ingat Tuhan - padahal dalam pertemuan biasa kita, termasuk KK ini, kita perlu ingat Tuhan kita! Tahukah Anda, manfaat kita dalam KK kita ini, karena pengorbanan Tuhan pula! Atau kita lihat ini sebagai kelas mata kuliah saja? Ini kekuatiran saya ketika angkat tema ini.
Saya harap kita coba hayati dalam pertemuan atau PK kita, semangat yang diletakkan Ibrani bahwa ini adalah aplikasi sama dari teguhnya pengharapan kita dan keberanian menghadap Tuhan (ayat-ayat sebelumnya). Hal besar ini ditulis sejajar dengan menghargai pertemuan kita. Saya tadi memulai dengan bahwa dalam tiap pertemuan ada semangatnya, dan saya juga paparkan diperlemahnya bentuk pertemuan dan PK kita, dan saya berharap tulisan Ibrani kita boleh dibangkitkan semangat pertemuan kita yang berharga. Jika kita ada semangat benar dalam pertemuan kita, mari kita hargai waktu yang diberikan, dengan giat, sebab ini hak istimewa kita, sebagai tanda kita kasihi mereka yang dicipta juga, dimana secara komunal dibeli Yesus, dan ketika menjauhkan pertemuan ini sebenarnya melecehkan darah Yesus karena mereka tidak melihat nilai rohani dari pertemuan ini. Mari kita saling mendorong, giat lakukan, sebagai pesta Tuhan, bukti kemenangan Tuhan, menyatakan iman kita dengan bebas bersama saudara seiman.
Saya tutup dengan observasi ini: Anda lihat orang-orang yang baru percaya, biasanya mereka suka setiap waktu di gereja berkumpul bersama. Semangatnya apa? Keindahan Injil itu, dimana Yesus menebus umat dengan darah yang mahal. Inilah semangat yang benar. Yang menjauhi kehilangan penilaian ini. Saya dengar kisah orang percaya konsultasi ke istri saya, dia dilema besar terkait dirinya sebagai orang Kristen: hilang kerja, terancam keluar Singapura. Dia sempat 2 tawaran pekerjaan: yang pertama dia harus bohong tentang nominal gaji agar izin dapat (dimana dia dapat hanya di bawah setengah dari yang dilaporkan), yang kedua dia dibayar sesuai laporan tapi biaya perusahaan ke pemerintah perlu ditanggungnya. Hasilnya, di kedua pilihan dia uang banyak habis untuk sewa kamar. Dia bilang, di Indonesia dia ayah bukan percaya, sulit gereja, dia mohon tanya bagaimana bisa bertahan dalam komunitas baik di Singapura. Orang ini mengerti nilai pertemuan yang ditebus Yesus! Adakah kita mengerti? Jangan jauhkan diri dari pertemuan, tapi saling dorong dan giat, jelang hari Tuhan yang mendekat.