KK 27 Januari 2022 (narsum: Bpk. Ian Kamajaya, transkrip: Stefanus)

Nas: Ibr 11:1-19, 2 Kor 5:7

Hari ini kita akan belajar tema penting Kristen, yang menjadi booster bagi tema kelakuan (pembahasan Yakobus dari Billy). Biar ini menyegarkan fondasi kita, atau memperbaiki yang kurang. Kita akan baca satu perikop, kita lebih baik ambil ayat kunci dari contohnya ketimbang definisinya. Lalu kita akan lihat bagaimana contoh itu terkait dengan definisi. Dari Ibrani 11, pasal terkenal tentang iman. Dari Ibr 11:1-19, lalu 2 Kor 5:7.

Ayat 1-3, kesaksian nenek moyang, bisa juga diartikan kesaksian presbiter/penatua. Marturia (kesaksian), kata ini diulang. Juga kata "tidak melihat" dan variasinya. Ayat kuncinya (9-10), karena iman Abraham diam di tanah perjanjian seolah di tanah asing, tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub (sebagai keturunan janji, ahli waris), menantikan kota yang dibangun Allah. Tidak menerima yang dijanjikan, melambai-lambai (menyambut), sadar mereka orang asing dan pendatang. Rindu cari tanah air, ada kesempatan kembali, tapi sekarang rindu tanah air surgawi. Allah tidak malu disebut Allah mereka, sediakan kota (bukan kemah), ayat 16. Yang Tuhan katakan ke Abraham, keturunan dari Ishaklah yang akan disebut keturunannya. Lalu Abraham berpikir, Allah sanggup bangkitkan orang mati, waktu disuruh persembahkan Ishak. 2 Kor 5:7, hidup berjalan dengan iman, bukan penglihatan. Ayat kunci dari Ibr 11:9-10.

Tema iman merupakan tema penting, merupakan salah satu kebajikan paling penting Kristen. Kebajikan itu tidak sama tingkat: lemah lembut, rendah hati, bijaksana, dll. Tetapi kebajikan utama Kristen adalah iman, pengharapan, kasih, ada dalam 1 Kor 13, ketiganya tetap tinggal. Iman tempatnya begitu pusat dalam hidup Kristen. Yesus serukan tentang ini juga agar orang boleh percaya. Ini jadi sumber saluran anugerah Allah pada kita (Ef 2:8-9, kita terima anugerah melalui iman). Saya tak dapat kecilkan nilai dari iman ini, terlalu besar dan luas dalam Alkitab. Konteks 1 Kor memang relatifkan lagi iman terhadap kasih, kebajikan paling besar (di pasal awal 1 Kor 13). Tapi dalam perikop itu pun, iman itu pun akan tetap tinggal sampai akhir zaman. Dengan rujukan ini, harap kita bisa kenal bahwa iman itu merupakan hal yang begitu pusat dan penting dalam hidup Kristen, Bagaimana iman memengaruhi kebajikan lain? Tanpanya, kita gak bisa kenal kebenaran Allah, lihat janji Allah. Di Ibr 11, tanpa iman kita tak bisa berkenan pada Allah. Juga, di Yak, segala sesuatu yang dikerjakan di luar iman, itu dosa. Iman seperti jantung dari hidup kita. Iman ini hanya direlativisasi dengan kasih, setahu saya. Juga iman tidak nyata direlativisasi dengan iman nyata (dengan buah perbuatan), dalam Yak 2. Iman sejati direlativisasi dengan iman tidak sejati, Tapi di luar relativisasi ini, iman begitu diangkat. Berkat materi bisa direlativisasi, tapi jarang sekali kebajikan iman itu direlativisasi.

Kita perlu kenal iman seperti apa, dan apa yang sesuai. Dalam Ibr 11, dikatakan iman adalah dasar dari harapan, bukti dari yang tidak kita lihat. Iman itu dasar (hipostatis), fondasi, di bawah dan kokoh. Harapan itu diletakkan di atas fondasi iman. Bukti dari yang tidak kita lihat, kata yang dipakai itu pragmaton. Pernah dengar kata pragmatisme? Pragma itu bicarakan sesuatu yang telah selesai, genap. Akar katanya sama. Kalau mau terjemahan literal, iman itu adalah bukti dari sesuatu yang telah genap. Misal Anda kerja 10 tahun diberi upah, tunggu 10 tahun baru dapat, ini bukan ilustrasi iman. Tapi iman di sini jadi tanda kamu dapat upah di awal, Iman membuat kamu punya bukti sertifikat bahwa upahmu telah dibayar! Tanpanya, kita tak ada keyakinan apa uang itu sudah saya milki. Ini nuansa asli dari penulis Ibrani, tentang iman. Bahkan diangkat lagi, dengan iman telah diberikan kesaksian pada nenek moyang kita (konteks orang purba yang beri kesaksian pada kelompok sekitar), atau presbiter/penatua (di gereja mereka terima iman dan nyatakan dengan benar). Iman membuat kita mengerti bahwa yang kelihatan terjadi dari yang tidak kelihatan. Maka orang suka katakan iman mendahului pengertian. Kalau kita mau pikir sedikit, bagaimana orang dalam dunia masa kita melihat iman? Kita akan terkejut, karena banyak elemen yang dimiliki dunia yang beda dengan Alkitab. Sayangnya pengertian dunia yang merasuk ke kita waktu kita bicara iman bahkan dalam konteks kristiani (misal saat kita bicara, kamu punya iman atau tidak). Kalimat dengan iman sering kita tak telaah pengertian, disalahgunakan juga. Maka perlu Alkitab berikan klarifikasi dan pengertian panjang tentang iman. Seperti kasih dalam arti duna dimengerti beda dengan pengertian kasih di Alkitab. Iman di Alkitab itu seberapa jauh pengertiannya dengan dunia? Kita akan lihat contoh utama kita Abraham, nanti kita telaah bedanya.

Pengertian iman dalam dunia masa kini bagaimana? Kalau orang ngomong saya percaya, apa maksudnya? Misal, iman menjadi dasar dari apa? Percaya diri, supaya apa? Misal, ujian pasti bisa diselesaikan. Atau iman itu jadi tambahan dari apa yang kita gak yakin, bukan dasar lagi! Usaha dulu, perlu tambah percaya, jadi kenyataan, begini ya. Yang beda dengan Alkitab? Di dunia, kalau kurang percaya diri, maka bisa menuju keberhasilan. Di Alkitab, iman jadi dasar harapan. Di contoh Alkitab tadi, menariknya, harapan mereka itu tidak sampai berhasil, seperti Abraham yang tidak dapat tanah perjanjian. Tapi di dunia, bukan sekadar harapan, tapi perlu ada keberhasilan. Di Ibrani, iman itu dasar harapan, bukan hal di atasnya misal keberhasilan akan harapan. Dengan kata lain, iman yang berhenti di harapan, bukan naik lagi misal keberhasilan. Maka juga dikatakan, iman itu bukti dari hal yang genap!

Iman sebesar biji sesawi, kata Yesus, bisa pindahkan gunung. Saya gak bisa pindahkan gunung, berarti iman saya begitu kecil. Bahkan di 1 Kor 13, iman sempurna pindahkan gunung. Berarti bagi Paulus, iman sempurna itu sekecil biji sesawi. Maka iman itu begitu besar nilainya, memberi tenaga, pola hidup, harapan, mengubah hidup. Iman menambah dimensi, seolah benda 2-dimensi jadi benda 3-dimensi, berkembang secara tak hingga! Orang dunia bukan letakkan iman sebagai dasar, tapi tambahan. Lalu, orang dunia seberapa menggunakan iman untuk memberikan jangkar? Misal, percayalah Covid akan segera berakhir, ini sementara saja, dan iman memberi sauh sedekat itu.

Tapi di Alkitab, sauh dari iman itu jangkauannya jauh sekali, bahkan lampaui batas waktu, tempat, bahkan kematian. Karena iman, Habel bicara sekalipun mati. Abraham, yang beriman, tinggal di tempat perjanjian (bukan sebagai penguasa, pemilik - ini pengertian dunia), sebagai orang asing. Justru karena beriman ia tinggal sebagai orang asing. Alkitab bedakan mana yang iman dan bukan. Menantikan di tempat itu, tapi mata ke surga. Iman Abraham gak kenal batas waktu dan tempat (kalau terbatas, dia dapat itu sebelum mati), bahkan lampaui kematian. Bahkan persembahan Ishak menyatakan iman Abraham yang meyakinkannya untuk dapat Ishak setelah kematian. Apa yang membuat seorang di tempat asing, yakin Tuhan akan berikan itu, walau bukan sebagai pemilik. Kita suka rasa Tuhan kasihi, kalau di dunia kita pemilik. Kalau iman cara dunia, kalau dapat sengsara sedikit, anggap Tuhan gak setia. Tapi Abraham punya iman lampaui batasan tadi, karena ia tahu yang menjanjikan itu setia. Iman orang Kristen itu membuat kita bisa percaya segala sesuatu itu telah terjadi. Ini yang membuat Abraham, orang kaya, pernah lawan raja yang tawan orang Sodom pakai 300an pembantu di rumahnya, menang. Dia bisa dirikan kota atas namanya, bisa kan! Tulisan Aristoteles, etika Nikomakean (itu nama anaknya), tentang politik dan pencapaian kesukaan, maksudnya anak yang belajar dari Aristoteles akan punya etika demikian. Abraham yang besar seperti itu bisa dirikan kota, tundukkan raja sekitar dengan kuasa (mempercepat janji Tuhan). Raja Sodom setelah dikembalikan orangnya, mau beri tambahan harta ke Abraham, ditolak. Abraham bisa taklukkan Kanaan saat itu kalau mau, karena 4-5 raja telah dikalahkan, Sodom telah binasa. Tapi dia tinggal di kemah, tinggal di sana hormati sekitar sebagai orang asing, walau dia terima janji. Kita terima janji anak Allah, apa iman ini berarti kita bisa jadi seperti raja nikmati dunia? Sauh kependekan di sini.

Kenapa Abraham walau terima janji, ia tetap tinggal sebagai orang asing (vs pemilik), dalam kemah (vs kota), nantikan kota yang didirikan Tuhan. Dari sini baru kita mengerti apa iman sejati itu. Abraham tinggal sebagai orang asing, di tanah perjanjian. Kenapa? Kalau diipermudah, konteksnya misal hidup bergereja kita, iman bahwa Tuhan akan berbuat baik dan tidak tinggalkanmu? Artinya, apa pemberian Tuhan akan tepat sesuai usahamu? Iman bahwa Tuhan adil dan berikan yang baik. Gak perlu iri dengan jatah orang lain, karena jatah Tuhan itu tepat. Maka dalam segala yang kamu kerjakan, gak perlu pikir dapat tempat terhormat dll. Setuju? Atau justru tidak? Perlu lebih aktif, usaha, untuk dapat sesuau, apa itu benar? Kalau kurang bertumbuh, pengaruh kurang besar, kurang prestasi atau upah, apa pasti kurang iman, ada dosa? Orang Kristen perlu sukses di masyarakat untuk jadi garam terang, kalau tidak kurang iman? Ada yang salah di sini. Sauhnya kurang jauh, baik itu di sini dan sekarang saja! Kalau gak digenapi di sini, kandaslah iman saya, rugi di sini. Kalau Abraham berpikir bahwa ia rugi berjanji dengan Tuhan, Abraham ada kesempatan balik (ditulis di Ibrani)! Berapa sering kita percaya kebaikan Tuhan hanya lihat penggenapan janji di sini dan sekarang. Tapi Abraham, karena iman, hidup dalam harapan seumur hidup, cukup buat dia bertahan, sukacita, rasa cukup, saksikan Allah yang berjanji itu setia! Bagi Abraham, iman itu bukti dari segala sesuatu yang genap! Maka yang dia dapat sementara, tidak bernilai seperti yang digenapi itu! Seberapa sering kita pertanyakan diri, Tuhan, orang lain, dari konsep iman yang salah. Tapi iman yang benar menyelesaikan itu dulu! Membuat Nuh berbuat sesuatu yang ditunda ratusan tahun, air bah. Iman yang kita pelajari sering tak seperti deskripsi Alkitab, apa itu tanah air surgawi, atau penggenapan nafsu kita? Iman Abraham cukup membuat dia hidup sebagai orang asing.

Kenapa di kemah? Simbol musafir, sementara, siap untuk pergi, ini nandakan dia rindukan kota yang dibangun dan dirancang Allah! Yang penting di sini, iman Abraham yang sauhnya di kekekalan itu, berpaut di kekekalan itu sama Tuhan! Iman dilempar ke kekekalan, berpegang pada pribadi Tuhan, Kita sering reduksi Tuhan ke sesuatu yang di bawah misal janji Tuhan. Tapi Abraham kenal Tuhan yang janjikan itu setia, fokusnya ke pribadi, bukan ke bendanya. Dunia dalam waspadanya ajarkan kita untuk tidak terlalu percaya orang, ini dalam kejatuhan wajar. Tapi Tuhan tidak seperti manusia dalam hal ini! Kita perlu punya relasi yang beda! Ke manusia, kita mungkin lebih percaya perbuatan atau hasil janji ketimbang manusia itu sendiri (perlu kontrak untuk yakinkan janji), tapi ke Tuhan kita tak perlu takut tidak terpenuhi.

Abraham rindukan kota surgawi, yang pendirinya Tuhan sendiri, terkait dengan pribadi Tuhan! Tanpa iman ke pribadi ini, kalau janji itu tak tergenapi di dunia, kita bisa hilang iman ke pribadi Tuhan. Di ayat 13, dalam iman mereka telah mati, sebagai orang yang tidak memperoleh yang dijanjikan, melambai dari jauh, pendatang di bumi. Ini kontras dengan mereka dapat, menggenggam dekat, pemilik di bumi (ini mungkin lebih beresonansi dengan pengertian iman kita yang salah)! Betapa besarnya orang dapat berharap dengan iman yang tepat! Iman begitu terkait dengan harapan, kalau iman kecil harapan kecil. Iman kuat kaitannya dengan penantian, kuat menanti. Kita seberapa sering menguji iman kita dari cara demikian (seberapa kita berharap), atau kita hanya bilang iman, iman saja, tapi salah pengertian.

Beriman kepada Tuhan, bagaimana Anda melihat sekolah, kantor, kampus Anda? Memang dituntut melakukan terbaik, tapi gak dapat keberhasilan seperti tetangga Anda, bagaimana Anda responi situasi ini? Merasa iman itu berarti hasil yang diperoleh itu? Kalau cara pikir gini, penulis Ibrani itu gak akan tulis seperti tadi. Tapi seperti Abraham, dia tetap berbuat baik (membantu raja Sodom), tapi dia tidak klaim kepemilikan dunia. Inilah orang percaya, sudah dijanjikan tanah, tapi tidak rasa memiliki ini. Harap Anda menangkap pesan, dapat membedakan pengertian iman, dimana iman benar itu hasilkan ketekunan, harapan, kasih yang murni. Iman yang diangkat di sini itu iman kepada pribadi (bukan sekadar iman terhadap hukum tabur tuai, dll). Ayub dianggap orang sekitar menerima konsekuensi hukum tabur tuai, tapi Ayub melihat kepada pribadi Tuhan! Beda iman yang ditulis di dunia dan Alkitab.

Kalau begitu apa maksudnya kita hidup dengan iman dan bukan dari yang kelihatan (2 Kor 5:7), dari contoh-contoh tadi? Bagaimana membedakan yang kelihatan vs iman ini. Dibanding dengan anak-anak, kita kalah dalam iman ini. Bukan berdasarkan yang terlihat, maksudnya salah satu perjalanan iman itu secara negatif adalah melihat mata, dan secara positif kita mengarahkan diri dan hati kita dikontrol dalam pribadi Tuhan! Sauhnya terkait pribadi Tuhan. Kalau ada kondisi yang Anda tidak mengerti, ini oke saja, asalkan kita tahu Tuhan ada. Anak itu mahir dalam hal in, dia gak ngerti apa yang ayah ibunya mau, gambaran besarnya apa, mereka juga tidak peduli, mereka juga gak minta tahu, mereka cukup tahu inilah ayah dan ibuku! Inilah iman! Sering iman kita bercampur, mendua hati. Tapi Dia Bapa kita, dan itulah yang penting. Inilah iman kepada pribadi Allah, dan Allah tidak malu disebut Allah kita. Dari sisi Allah, Dia menguasai semesta, bisa apa pun, dan kasihNya begitu besar sampai ia berikan Anaknya yang tunggal. Ini kuasa, kasih, kebaikan, yang gak perlu diragukan, tapi kita ragu loh - dari sisi Tuhan bagaimana? Ada cerita menarik tentang Iskandar Agung, suatu kali ada orang datang kepadanya, pangkat gak tinggi, minta sesuatu yang besar, dan Iskandar mengiyakan. Ajudan Iskandar heran, permintaannya terlalu besar ke orang bukan posisi tinggi. Dibalas justru kasih karena saya tahu orang yang minta itu tahu saya mampu dan mau memberi, barulah dia minta itu! Waktu Tuhan beri bijaksana tanpa bangkit-bangkit, itu seolah ada di depan mata tinggal dikasih (Amsal, bijaksana itu seperti teriak agar orang datang), tapi orang masih mendua hati, ini gila kan, dari perspektif Tuhan! Orang yang berani dan mau minta, ini yang benar! Seperti Yavniel tiba-tiba masuk minta saya pangku. Bapa di surga melampaui ini! Sauh itu begitu jauh dilempar, ditautkan dengan pribadi Tuhan sendiri! Saya percaya ini yang mau disampaikan penulis Ibrani, agar kita belajar iman yang demikian, dasar harapan dimana kita hidup dalamnya (Rm 8, kalau sudah dapat bukan lagi harapan). Negasi ini juga muncul di Ibr 11 tadi. Mari kita punya iman dan harapan ini agar kita tak tergoncangkan gonjang-ganjing dunia yang menyimpang. Iman sejati itu sedikit pun sudah sempurna. Sekian bahan saya hari ini.

Bagaimana lihat berkat? Berkat bisa jadi tanda perkenanan Tuhan, tapi jadi salah kalau dianggap lebih dari tanda. 10 orang kusta datang, disembuhkan, yang balik berterima kasih itu satu. Dikatakan imanmu menyelamatkanmu, karena yang balik itu lihat lampaui tanda kesembuhan itu sendiri. Jadi bisa Tuhan memperkenan, tanpa tanda berkat, misal Ayub, yang kenal berkat itu bukan Tuhan (dicabut, ia tetap percaya Tuhan). Memang berkutat sih, apalagi dengan teman-temannya yang memberi konsep itu, dia jadi mengeluh puluhan pasal. Iman yang membuat kita bisa terima kalau kita gak terima, inilah iman. Tuhan sering biarkan masa transisi, misal iman kita gak benar, tapi Tuhan tetap kasih, misal Gideon minta tanda dan Tuhan beri penggenapannya. Tuhan bisa beri, tapi tak selamanya Dia suka, walau dia beri dengan limpah. Sebaliknya, karena ini sementara, Tuhan bisa kasih sebaliknya, dikasih yang sulit supaya kita tak percaya pada itu, seperti Zakaria dibuat bisu karena ketidakpercayaannya. Tuhan mau kita tidak percaya tanda itu saja (ini Dia bicara ke orang tak percaya), tapi ke anakNya Dia minta kita percaya kepadaNya. Ini begitu berbeda dan polemikal dengan apa yang sering kita mengerti, iman yang benar vs yang lain.

Refleksikan, apa Anda pernah punya iman yang salah, lalu ada masa dimana kita diajar kemudian untuk berpaling dari berkat Tuhan kepada Tuhannya sendiri.